Posted by: Edy Suprianto | December 29, 2011

Berita tidak penting : menjadi kurus…

Belum lagi puas menikmati  saat-saat menjadi sosok gendut nan lucu selama 4 tahun, saya sudah harus kembali lagi ke kondisi semula, kurus dan nampak serius. Saat ini body mass index  (BMI) saya turun menjadi 21,87 dari angka sebelumnya 25,39. Meski masih masuk ke dalam kategori normal dan sehat,  tetapi kehilangan 9 kg berat badan cukup membuat hati ini sedih.  Baru satu tahun saja sudah turun 9 kg, bagaimana dengan dua tahun berikutnya? *pertanyaan kurang penting no.1*

Menjadi kurus ada enaknya,  tetapi banyak juga tidak enaknya. Enaknya, saya tidak perlu menahan napas saat memakai sepatu bertali. Lebih bebas bergerak dan terasa ringan. Tidak enaknya adalah celana dan baju yang saya bawa dari Indonesia terasa sangat longgar, dan terlampau besar. Kondisi sekarang mengharuskan saya memakai pakaian satu nomor di bawahnya. Kalaupun mau memakainya, mesti dirangkap dengan pakaian dalam lainnya. Saat musim dingin seperti sekarang sih, ok-ok saja, karena memang harus mengenakan pakaian berangkap-rangkap. Bagaimana dengan musim panas nanti? *pertanyaan yang (sangat) tidak penting no.2*

Kok sekarang kurus? Pertanyaan inilah yang sering saya peroleh dimana-mana. Mungkin para teman dan sahabat membandingkan saat pertama saya tiba di Jerman, dan setelah satu tahun tinggal disini. Biasanya saya menjawab dengan senyum, sambil berkelakar “maklum student”, meski dalam hati juga bertanya-tanya ‘kok bisa kurus?’ Semestinya saya bisa untuk tetap menjaga BMI di kisaran angka 25, karena bahan makanan yang tersedia di sini kalorinya sangat tinggi. Tapi ada beberapa hal yang memang menjadikan saya menjadi lebih ramping saat ini (tidak tahu nanti).

Faktor pertama adalah aktivitas bersepeda.  Tidak disangkal, bersepeda merupakan kegiatan utama saat tugas belajar di sini. Ke kampus, ke shopping mall, ke stasiun, semuanya dengan bersepeda. Menurut mbah Google, mengayuh sepeda dengan kecepatan 10 km/jam bisa membakar kalori sebesar 165 kkal per jam-nya.  Saya telah bersepeda aktif setiap hari selama satu tahun terakhir. Dari kegiatan bersepeda saja sudah cukup untuk membakar stok lemak kebanggaan saya yang diproduksi selama periode 2007 – 2010. Dan saya baru sadar, stok lemak saya sudah tidak ada lagi. *kesadaran yang terlambat*

Faktor kedua adalah cuaca. Situasi dan cuaca dingin membuat tubuh kita bereaksi untuk menghangatkan diri. Nah untuk menjadi hangat, stok lemak di tubuh saya  juga yang dibakar. Bersepeda di musim dingin? Stok lemak saya benar-benar habis terkuras. Jadi wajar dong, kalau saya menjadi kurus. *pembelaan yang tidak penting*

Pembelaan saya mungkin bisa dipatahkan dengan kenyataan bahwa banyak orang Jerman yang tetap gemuk meski mereka bersepeda tiap hari dan mengalami musim dingin sepanjang hidupnya. Tapi saya bilang, mereka kan mengkonsumsi alkohol . Menurut Mbah Google (lagi), orang-orang disini rata-rata mengkonsumsi 12.81 liter/tahun pure alcohol dalam bentuk bir, anggur, vodka dll.  Khusus untuk bir, mereka mengkonsumsi 110 liter setiap tahunnya.  Dan semua orang tahu, kalau kita terbiasa minum bir, maka berat badan akan mudah bertambah. Haruskah saya minum bir untuk bertambah gemuk? *pertanyaan tidak penting no.3*

Tetapi sebab paling mendasar kenapa saya kurus adalah faktor makanan. Ya, betul sekali. Makanan. Dulu, sewaktu saya baru kembali ke Indonesia usai menunaikan tugas belajar yang pertama, saya langsung tergagap-gagap menyantap hidangan di Indonesia. Setiap kali makan, takaran menunya minimal dua porsi. Untuk sate padang, soto medan, dan soto ceker, saya bisa menyantap hingga tiga porsi. Bukan greedy, tapi lebih ke euphoria. Lama tidak berjumpa jajanan Indonesia, sekali jumpa langsung ambil banyak.  Apalagi saat saya menjalani perjalanan dinas dari kantor. Jadwal makan yang pasti 3 kali (sarapan di hotel, makan siang dan makan malam bersama client), sudah barang tentu berdampak kepada bertambahnya  tumpukan lemak.  Saat itulah bobot saya bertambah drastis 14 kg selama dua tahun. Hebat, kan? *pujian yang tidak penting*

Bagaimana dengan makanan di sini? Meski tinggal di negara londo, saya dan keluarga tetap masak dan makan makanan Indonesia.  Meski masakan sama, tetap saja ada feeling yang berbeda. Ada sih panganan ala Jerman sini. Tapi kelezatannya belum bisa menandingi kelezatan santapan Indonesia yang asli. Pernah mencoba untuk mengkonsumsi roti dan keju beberapa hari tanpa bertemu nasi. Hasilnya? Perut murus-murus.  Beruntungnya sekarang ada istri yang selalu memasak makanan Indonesia.  Jadi saya tidak terlampau kurus. 

Kesimpulannya, saya menjadi kurus karena saya student, beraktivitas sepeda, tinggal di cuaca dingin, dan selera makan yang berkurang. Dan bila ada yang berkeinginan untuk kurus, bisa memilih salah satu dari faktor penyebab tersebut. Tetapi perlu dicatat, saya tidak menjamin Anda untuk bisa menjadi langsing dalam sekejap.

Posted by: Edy Suprianto | December 21, 2011

Emak, muara tenang dan embun pagi..

Emak, panggilan saya kepada Ibu. Umurnya mendekati 70 tahun. Sekarang beliau tinggal di rumah yang dibangunnya sendiri, hasil jerih payah membuka warung tegal sejak tahun 1974. Rumah Emak terletak di sebuah desa yang tenang, di Kecamatan Slawi. Nama desanya, Desa Kagok.

Emak, bagi saya adalah sosok penuh arti dan tak terganti. Beliau adalah muara yang tenang untuk menghilangkan segala kegundahan. Beliau ibarat embun pagi hari, yang mengubah segala kesusahan menjadi ketenangan dan kesejukan.  Mendengar suara Emak dan mengetahui beliau dalam keadaan sehat wal afiat adalah hal yang paling saya harapkan dan membuat saya semangat, apalagi saat hidup di perantauan seperti sekarang.

Emak, sosok wanita kuat yang saya kenal. Saat masih aktif menjalankan usaha warung tegal dulu, beliau sudah bangun pukul 3.30 pagi. Menyiapkan beras untuk ditanak, merebus telur, menata bumbu-bumbu untuk membuat sayur, dan menyiapkan adonan tepung terigu untuk tempe goreng. Bersama almarhum Bapak, beliau mengusahakan agar jam 6 pagi, nasi, sayur, telor dadar, telur rendang, dan tempe goreng sudah tersedia untuk pelanggan. Para pelanggan warung kami kebanyakan orang-orang yang  memulai aktivitasnya di pagi hari, seperti tukang roti, tukang becak, sopir bajaj, dan beberapa pedagang sayur keliling. Setelah beberapa menu untuk warung telah siap, beliau berangkat ke pasar Cipete untuk berbelanja keperluan warung untuk satu hari. Saya biasanya ikut ke pasar, menemani Emak berbelanja (mungkin pas-nya memaksa ikut ke pasar setiap pagi). Mengamati Emak berinteraksi dengan pedagang langganan, membantu Emak memasukkan barang belanjaan ke karung, dan pulang menaiki bajaj dengan duduk diatas karung belanjaan. Emak pergi ke pasar tanpa daftar belanjaan, tapi beliau ingat semua apa yang harus dibeli. Saat saya tidak ikut ke pasar, Emak selalu membelikan kue kesukaan saya : kue pukis. Atau sesekali beliau membelikan satu kaleng Wafer Roma, untuk saya habiskan sendiri.

Sepulang dari pasar, Emak langsung menyiapkan diri untuk memasak barang-barang belanjaannya. Menu masakan wajib tiap hari untuk warung tegal kami selain tempe goreng dan telur dadar adalah opor ayam, sayur nangka (bukan gudeg), dan sayur kacang tolo campur tahu. Biasanya saya, sebelum berangkat sekolah di siang hari, membantu Emak memotong bawang merah dan bumbu tumisan lainnya. Untuk bumbu opor ayam, selalu Emak yang menentukan komposisinya. Setelah bumbu siap, dan bila masih ada waktu, saya menyempatkan untuk membantu menggoreng bumbu, dan memasak opor ayam hingga selesai. Ayam yang sudah empuk, sebagian diangkat dari opor untuk digoreng, dan sebagian lainnya dibiarkan. Biasanya untuk menu warung, kami juga memasukkan tahu cina ke dalam opor. Sampai sekarang saya selalu mencoba untuk memasak opor seperti yang Emak ajarkan, tapi rasanya masih jauh dibandingkan masakan Emak.

Warung  tegal kami buka hingga pukul 19.30 malam. Setelah tutup pun, biasanya masih ada pelanggan yang mengetuk pintu warung, dan meminta makan. Bila masih ada nasi dan menu lainnya, Emak dan Bapak tidak pernah menolak pelanggan yang datang. Prinsipnya mereka sederhana, mereka yang datang ke warung kami, dalam keadaan lapar. Emak dan Bapak selalu melayani mereka dengan ikhlas dan senang hati. Malam hari, biasanya Emak masih berkutat di dapur warung. Menghangatkan nasi atau sayur, menyiapkan menu untuk besok. Warung dan rumah kontrakan kami saat itu menjadi satu.

Warung kami hanya tutup 3 hari saat Lebaran, kalau kami tidak pulang kampung ke Tegal. Saya pernah bertanya ke Emak, kenapa libur warungnya singkat sekali. Emak bilang kalau tutupnya kelamaan, kasihan para pelanggan. Mereka pasti perlu makan dan tidak banyak warung yang buka. Emak selalu berusaha untuk tidak mengecewakan pelanggan kami.

Emak memiliki kemampuan menghitung harga makanan, meskipun Emak tidak pernah mengenyam pendidikan, dan tidak bisa baca tulis. Saat melayani pelanggan, beliau tahu cara menghitung. Tapi bila ada pelanggan yang ingin berhutang dan kebetulan Bapak sedang tidak ada, Emak menyerahkan kepada pelanggan untuk menulis hutangnya sendiri di buku hutang. Saya pernah tanya, kok Emak percaya sama mereka? Jawab Emak : Meski Emak ngga tahu baca tulis, tapi Emak percaya mereka jujur. Kalaupun mereka bohong, ya biarkan saja. Memangnya ngga rugi, Mak? Emak bilang, rezeki bisa datang darimana saja.

Saya pernah mengajari Emak membaca dan menulis. Satu bulan belajar, akhirnya Emak hanya bisa tertawa akan ketidakbisaan beliau, lalu menyerah dan tidak sanggup. Beliau senang, seluruh anak-anaknya bisa sekolah dari hasil jerih payah membuka warung bersama Bapak. 

Emak sangat mengetahui kesukaan saya. Opor ayam dan ayam goreng.  Setiap saya pulang ke kampung Emak di Slawi, beliau pasti menyempatkan diri untuk memasak opor ayam. Makanya saya lebih suka datang mendadak ke kampung, dengan tujuan agar Emak tidak repot-repot menyiapkan masakan khusus buat saya.

Di usia senjanya, Emak masih terus beraktivitas. Setelah tidak lagi menjalani usaha warung, beliau kembali ke kampung halamannya tahun 2007 yang lalu. Di sana, beliau masih aktif membuat tempe, keahlian yang beliau tinggalkan selama berjualan di warung tegal. Tidak banyak yang diproduksi, tetapi selalu habis. Emak tidak perlu memasarkan ke luar, karena para tetangga yang datang sendiri ke rumah Emak untuk membeli. Kebiasaan Emak adalah memberi lebih kepada pembelinya. Entah itu tambahan tempe, atau makanan lainnya yang ada di rumah.

Di hari ulang tahun kemarin, saya menelepon Emak. Memang saya niatkan sejak awal, ingin ngobrol dengan Emak di hari ulang tahun saya. Sekedar ingin mendengar kembali cerita tentang  kelahiran saya. Beliau masih ingat nama bidan yang menolongnya. Dan Emak juga ingat, bahwa hari kelahiran saya dekat dengan lebaran haji. “Kamu lahir hari Jumat Pon, Dy. Jam 12 siang. Dan ada surat lahir yang ditandatangani Bu Dewi, bidan di RS Fatmawati”.

Keputusan saya melanjutkan studi di Jerman sini, juga karena dukungan dari Emak. Saat  gundah dan bimbang di akhir tahun 2010 yang lalu, saya memaksakan diri untuk pulang kampung. Mengobrol sambil minum teh bersama Emak, sambil cerita-cerita tentang kehidupan. Tentang pilihan-pilihan yang saya hadapi untuk studi atau pindah kerja. Emak hanya bilang, pilih yang membuat hatimu tenang. Menuntut ilmu banyak manfaatnya. Uang bisa dicari dimana-mana. Sangat sederhana, tapi memberi keyakinan saya untuk berangkat menimba ilmu. Saat itu saya juga bimbang,  tidak akan bertemu Emak minimal tiga  tahun karena jarak yang jauh. Emak meyakinkan, bahwa beliau akan sehat-sehat saja. Toh masih ada telepon untuk saling berhubungan. Dan setiap telepon, pertanyaan Emak selalu sama. “Edy makannya bagaimana disana?”.

Mudah-mudahan Emak selalu dalam keadaan sehat wal afiat di Slawi sana, hingga saya bisa kembali sungkem dan mencium tangan beliau. Kangen akan tempe goreng, opor ayam, sayur lodeh, dan semua masakan buatan Emak. Kangen usapan tangan di kepala, saat tiduran di pangkuan beliau, sambil bercerita sana sini.  Baru menyadari, semandiri-mandirinya kita, tetap saja selalu ingin menjadi “anak kecil” di hadapan Ibu sendiri..

Posted by: Edy Suprianto | October 27, 2011

Selamat jalan, Pak Purboyo…

Berita duka datang via sms Pak Razak siang ini, menginformasikan bahwa Pak Purboyo, telah berpulang. Saya tersentak kaget. Masih belum percaya. Bapak, guru, sahabat, dan mentor saya, telah kembali ke pangkuan-Nya.

Saya mengenal Pak Purboyo sejak 1998, saat saya pertama kali masuk kerja di Pusat Penelitian Kelapa Sawit Medan. Waktu itu beliau masih menjabat sebagai Kepala Urusan Penelitian. Sosok yang ceria, penuh canda, akomodatif, pemberi semangat, meski kadang tidak sabaran. Ketidaksabarannya lebih dikarenakan keinginan untuk mewujudkan sesuatu yang baik, dan cepat. Saya masih teringat, sewaktu saya menanyakan SK pengangkatan saya sebagai peneliti ke beliau di awal tahun 2000. Bukan jawaban yang saya terima, tapi puluhan pertanyaan yang beliau berikan. Beneran kamu mau jadi peneliti, Dy? Ngga nyesel? Meski sudah saya jawab iya berulang kali, tetap saja beliau menanyakan. Mungkin juga menjadi sugesti untuk saya dalam menentukan pilihan hidup sebagai peneliti.

Kami bekerja sama lebih intensif saat menyusun sistem manajemen mutu untuk produksi bahan tanaman kelapa sawit. Bersama Yurna dan rekan-rekan lainnya, kami berjuang untuk mendapatkan sertifikasi ISO 9001:2000 untuk produksi kecambah di tahun 2001-2002. Kami menyusun struktur organisasi, manual mutu, standar operasional prosedur, instruksi kerja, dan berbagai form isian secara mandiri, tanpa didampingi oleh konsultan, meski pengetahuan kami tentang ISO 9001 saat itu masih sangat terbatas. Istilahnya modal nekat. Prinsip pak Purboyo : kami yang menjalankan sistem produksi, maka kami-lah yang harus menyusun sendiri semuanya, bukan orang lain. Tulis apa yang dikerjakan, dan kerjakan apa yang ditulis. Meski kami merengek untuk minta didampingi konsultan, beliau tetap ‘keukeuh’ dan percaya bahwa kami bisa melakukan semuanya sendiri.

Bulan Februari 2002, pre-audit oleh sebuah lembaga sertifikasi terhadap dokumen yang kami susun berbulan-bulan. Hasil lima ketidaksesuaian mayor, dan sepuluh ketidaksesuaian minor. Kami bilang ke Pak Pur untuk berniat mundur dari tim ISO. Tapi apa kata Pak Pur? Hasil pre-audit kemarin biasa, dan sudah bagus. Tinggal diperbaiki, dan minta lembaga itu untuk ‘audit betulan’. Dan kami pun diajak makan-makan di restoran Nelayan, untuk ‘diberi motivasi’. Jreng-jreng-jreng..

Di saat yang sama teman-teman kantor sedang berpacu dengan persiapan IOPC 2002, sementara kami dari Tim ISO juga berpacu untuk mengejar sertifikasi. Bulan Mei 2002, kami diaudit betulan. Hasilnya, kami layak mendapat sertifikat ISO 9001:2000. Senyum puas dari Pak Pur atas kerja keras semua Tim. Kerja yang panjang, ‘mondok di kantor’, telepon di tengah malam, dan ratusan lembar dokumen telah memberikan hasil yang baik. Sungguh suatu tempaan yang bermanfaat bagi kami yang muda-muda. Dan kami pun makan-makan lagi. Seperti biasa, di restoran Nelayan, tempat favorit beliau. Menu kesukaannya adalah Dimsum, dan berbagai Chinese food lainnya.

Bersama Pak Pur, kami pernah diajak berkeliling di lembaga riset kelapa sawit di Malaysia pada tahun 2004. Pengalaman pertama ke luar negeri, sekaligus mengenal orang-orang penting kelapa sawit. Bagi saya, Yurna, dan Firman, kunjungan itu merupakan sesuatu yang sangat berharga.

Kontak saya terakhir dengan beliau di bulan Februari 2011 via telepon. Beliau menelepon saya langsung dari Indonesia, untuk menanyakan kabar tentang tugas belajar saya di Göttingen. Senang rasanya bisa berbincang-bincang dengan beliau, sambil mendengarkan motivasinya. Beliau gembira mendengar saya melanjutkan studi lagi disini. Meski telah berpindah kantor, tapi kami masih sering menyapa dan bertukar kabar.

Saya mendengar kesehatan beliau menurun bulan lalu. Saya pikir hanya sakit biasa, karena sifat ‘workaholic’ beliau yang tidak pernah surut. Namun sepertinya Allah sangat sayang kepada beliau, dan memanggil beliau untuk kembali ke asalnya. Belum sempat saya mengucapkan terima kasih atas tempaan yang beliau berikan selama kami bekerja sama. Beliau telah menjadi bapak, guru, teman dan sahabat saya dalam memulai kehidupan bekerja. Semoga Allah menempatkan beliau di tempat terbaik…

Selamat jalan, Pak Purboyo. Terima kasih atas yang terbaik yang telah Bapak berikan..

Posted by: Edy Suprianto | July 19, 2011

Sakit, sebuah sinyal protes

Pernah sakit? Oh tentu..
Seberapa sering? Tidak terlalu sering..
Apa yang paling tidak enak dari sebuah sakit? Saat sendirian menghadapi kesakitan..

Sakit adalah sinyal protes dari badan akibat perlakuan yang tidak teratur dan tidak seimbang. Ketidakteraturan dalam memberikan asupan, ditambah lagi ketidakseimbangan nutrisi, membuat badan terhuyung-huyung saat mendapat serangan mendadak dari virus. Untuk pertama kalinya, setelah hampir tujuh bulan berdiam di negeri orang, virus influensa kembali menyerang badan. Cuaca yang tidak menentu, makan yang tidak teratur, asupan nutrisi yang tidak seimbang, dan kurang istirahat bahu membahu dalam memperburuk kondisi badan. Masih berhaha-hihi di pagi hari, malam harinya langsung “kaputt” (ambruk). Syukurnya masih tersedia parasetamol dari Indonesia untuk sekedar berjuang melawan demam.

Memang badan ini harus dipaksa untuk beristirahat. Baru sadar bahwa saya banyak berlaku tidak fair terhadap badan sendiri. Sering memaksakan kehendak, meski badan telah meminta untuk beristirahat. Tidak pernah berolahraga (alasan klasik: sudah bersepeda tiap hari), malas bergerak, meski masih cukup rajin bersih-bersih rumah. Dokter yang memeriksa saya bertanya : Olahraganya apa? Langsung saya jawab : Keine Sport, Dok. Jadi setelah sembuh, apakah akan berolahraga? Jawabnya : Saya akan pikir-pikir dulu dan pertimbangkan masak-masak.. Dari dokter ini, saya hanya diberi satu antibiotik untuk tujuh hari. Cuma satu jenis. Untuk derita yang sama, di Indonesia biasanya saya mendapat minimal 3 jenis obat.

Saat membuat tulisan ini sebenarnya kepala masih terayun-ayun. Melihat huruf-huruf pun masih berbayang-bayang. Namun apa daya, tak kuasa hanya berdiam diri seharian. Dan ini jadi bukti bahwa saya masih tidak fair dengan badan sendiri..

Goettingen, 19 Juli 2011

Posted by: Edy Suprianto | May 9, 2011

Rindu bertabur di antara jarak

Minggu malam ini terasa sepi. Catat ya, Minggu malam, bukan malam Minggu. Setelah sore tadi bekerja sedikit untuk menganalisis data di ruang kerja institut, tiba-tiba muncul kerinduan yang meluap kepada sosok pendamping yang telah menemani saya selama 10 tahun. Sosok cantik dan pintar yang membuat saya jatuh hati saat berjumpa dengannya di awal tahun 2000. Sebenarnya saya telah lama mengenalnya, saat dia mengikuti praktikum Dasar-dasar Agronomi di tahun 1996 dimana saya menjadi salah satu asisten dosennya. Hanya sekedar kenal, belum ada rasa apa-apa. Saya berjumpa kembali dengannya di tahun 2000, saat saya mengikuti sebuah pelatihan di kampus kami. Entah mengapa ada getaran saat melihatnya kembali.

Restoran KFC di dekat Tugu Kujang, menjadi tempat pertama kami makan bareng dan ngobrol sana-sini. Hubungan jarak jauh pun dijalani, Pematangsiantar – Bogor. Meski sudah memasuki era handphone, kami masih menjalani hubungan dengan berkirim surat ala pemuda jaman 2000-an. Alasannya cuma satu : kami berdua belum punya handphone. Surat-surat kami dalam dua bentuk, tulisan tangan dan hasil ketikan komputer. Rasanya dulu senang sekali bila ada surat yang sampai di meja kantor saya. Perasaan di dada membuncah.

Kalau ditanya, kenapa dulu saya tertarik sama dia? Jawabnya adalah karena dia sosok wanita yang pintar, cantik, dan kuat. Saya sangat bersyukur bisa mendapat pendamping seperti dia. Bila bukan karena dia, mungkin saya tidak lagi melanjutkan studi S3 seperti saat ini. Saat kebimbangan dalam memilih jalan hidup ada di depan mata, dia mendampingi saya untuk mengikuti kata hati. Meskipun itu mengharuskan ada banyak peluang dalam hidupnya yang terkorbankan untuk membesarkan anak-anak kami. Namun demikian, saya tetap menginginkan dia dapat berkontribusi dalam dunia keilmuan sebagaimana yang dia cita-citakan sejak lama. Mudah-mudahan waktu dan rezeki dapat berpihak kepada kami berdua.

Kini jarak tengah memisahkan kami berdua. Dua belas ribu kilometer, lima jam perbedaan waktu. Situasi yang penuh tantangan akan kami hadapi dalam beberapa tahun ke depan. Walau dunia saat ini seperti tanpa batas, dengan hadirnya berbagai teknologi pendukung, namun belum cukup mampu untuk mengobati rasa rindu kepada dia dan anak-anak. Hangatnya masakan untuk santap malam, pelukan dari si buah hati, dan renyahnya tawa saat berkumpul selalu saja membayang di pelupuk mata ini, saat kesendirian datang menyergap.

Kerinduan ini menjadi penyadar bagi saya. Sadar bahwa saya memiliki keluarga yang selalu setia mendampingi saya dalam kondisi apapun. Sadar bahwa tangan-tangan kecil di seberang sana selalu berharap untuk bisa memeluk saya secepat mungkin. Sadar bahwa saya memiliki permata-permata hati yang selalu membuat hidup saya sangat berharga.

“…Bapak memang jarang mengungkapkan rasa cinta dengan kata-kata. Tetapi dalam hati ini banyak sekali kata cinta dan rindu yang saling bertaburan yang berebut untuk diucapkan. Begitu bangganya Bapak memiliki istri yang tegar dan anak-anak yang pintar, yang selalu mendukung Bapak untuk belajar dan belajar…”

Posted by: Edy Suprianto | April 17, 2011

Hedonic Treadmill (by Dr. Rhenald Kasali)

HEDONIC TREADMILL

Kamis, 14 April 2011

Suatu hari seorang wartawan senior menawarkan saya untuk berkunjung ke rumah seorang mantan pejabat tinggi.Katanya, mantan pejabat ini senang memelihara tanaman langka,menyatu dengan alam, dan dikelilingi suasana desa.

Di kawasannya yang luas dan asri, ada rumah bacanya. Namun sewaktu saya tanya, siapa yang menjadi tujuan diadakannya rumah baca yang indah itu,teman saya mengatakan dengan datar,”Ya untuk si bapak itu sendiri. Banyak pertanyaan muncul dalam pikiran saya mengapa rumah baca yang mengoleksi karya-karya bermutu hanya dinikmati seorang diri? Bukankah di masa kecil kita semua pernah merasakan betapa indahnya dunia ini dari buku-buku cerita yang kita lihat di perpustakaan yang dinikmati banyak orang, bukan seorang diri.

Tetapi,saya lebih terhenyak lagi saat diceritakan,bapak ini juga kolektor lebih dari 100 mobil bagus dan semua ini hanya untuk dinikmati seorang diri. Saya jadi teringat cerita seorang teman yang bekerja sebagai direktur pada salah satu agen tunggal pemegang merek (ATPM) yang menyediakan dirinya mengantar ”upeti” berupa mobil pemberian seorang pengusaha ke rumah pejabat itu. Oleh ibu pejabat,saat mobil diserahkan, dia diberi amplop sebesar Rp10.000.

Sampai sekarang dia masih menyimpan tips dari ibu pejabat sebagai kenang-kenangan yang dia bingkai di ruang kerjanya karena seumur-umur,baru kali itu dia disangka sopir. Apa yang dialami bapak tua mantan pejabat yang mulai kesepian tadi sebenarnya tidak berbeda dengan orang-orang yang namanya banyak disebut media massa belakangan ini. Beberapa mantan petugas pajak yang sedang beristirahat di rumah tahanan, seorang bidadari cantik yang tengah diperiksa polisi karena menggelapkan dana nasabah, para pengurus partai politik yang sedang diperiksa KPK, pengurus organisasi sepak bola yang baru diturunkan oleh rakyat,dan seterusnya.

Nama-nama mereka sengaja tidak saya sebutkan supaya tidak memberi ruang pekerjaan pada para pengacara yang senang mengancam dan gemar mengirimkan saya somasi. Maaf, kali ini pekerjaan Anda sedang tidak dibutuhkan. Bersama-sama dengan pengacara- pengacara hedonis yang senang pamer kekayaan dan kekuasaan,mereka semua sedang melewati fase yang disebut Brickman & Campbell dan psikolog Inggris, Michael Eysenck, sebagai ban berjalan hedonisme.

Perbudakan terhadap materi membuat mereka yang terperangkap di sana mengalami kesulitan menggenggam kebahagiaan. Apa yang mereka dapatkan membuat sulit berhenti berlari di atas mesin treadmill yang bergerak semakin cepat. Kadang saya tak habis berpikir, bagaimana mungkin mobil semewah dan secepat lari Ferrari bisa mempunyai pasar di sebuah kota yang lalu lintasnya padat merayap seperti Jakarta? Tetapi, seorang bidadari yang bekerja sebagai client service pada sebuah bank asing berupaya keras membelinya.

Tidak hanya satu,tapi dua. Teori ban berjalan hedonisme (hedonic treadmill) atau biasa dikenal sebagai hedonic adaptation
theory menemukan, manusia-manusia yang terperangkap di sana hanya akan terpuaskan sementara. Dan dengan cepat mereka akan segera jenuh.Apa yang sudah dicapai itu hanya akan membahagiakan maksimal selama tiga bulan. Setelah itu mereka akan mencari lagi materi atau kekuasaan yang lebih besar. Namun, itu pun tak berlangsung lama.

Ban berjalan bergerak terus, melaju, dan melaju. Seperti ekstasi, menuntut Anda memuaskannya. Dari mencuri hanya beberapa juta rupiah, sampai Rp1 miliar, lalu puluhan, hingga ratusan miliar, dan triliunan rupiah.Kebahagiaan materi dikejar, tak ada hentinya,barangbarang yang semula Anda upayakan dengan bersusah payah, kini tak lagi mampu membuat
Anda bahagia. Anda pun memerlukan materi-materi yang lebih besar dan lebih bertenaga lagi untuk menumbuhkan semangat kebahagiaan.Tetapi,setelah didapat, Anda begitu cepat terpuaskan. Anda beradaptasi begitu cepat.

Berbagi, Sumber Kebahagiaan

Akhir tahun lalu sejumlah peneliti menemukan hasil penelitian lain yang dianggap melengkapi teori ini.Berdasarkan studi longitudinal terhadap 60.000 responden di Jerman, para peneliti menemukan tingkat kebahagiaan dan kepuasan manusia dewasa memang dapat berubah-ubah sepanjang tahun. Namun, apa yang membuat kebahagiaan mereka naik atau turun ternyata cukup menarik untuk direnungi oleh Anda yang sibuk mengejar materi. Responden orang-orang dewasa berusia antara 25-64 tahun yang diikuti selama 20 tahun itu mengalami pasang surut kebahagiaan.

Dan kebahagiaan itu ternyata bukan ditentukan oleh punya atau tidak punya materi, melainkan ditentukan oleh karakter dari partner Anda, tujuan kehidupan yang Anda pilih, prioritas hidup, gap antara bekerja dan menikmati, dan adopsi terhadap gaya hidup sosial. Ini berarti kebahagiaan Anda sangat ditentukan oleh seperti apa orang yang menjadi pendamping Anda, bukan oleh luas tanah, jenis, dan jumlah mobil yang bisa dimiliki, atau kekayaan lain.

Semakin bermasalah pasangan Anda, semakin terganggu kebahagiaan Anda. Namun, yang lebih penting lagi sebenarnya adalah prioritas personal yang Anda ambil dari keberadaan materi yang Anda kumpulkan. Apakah materi-materi dicari sematamata untuk dinikmati sendiri atau untuk dinikmati banyak orang? Menjadikan benda-benda duniawi sebagai koleksi pribadi dan cerminan prestasi diri dapat cepat membuat Anda merasa bosan dan kembali tidak puas.

Orang-orang yang bisa berbagi dan berorientasi hidup pada kebahagiaan orang lain akan lebih berbahagia. Sama halnya dengan gap antara bekerja dan menikmati. Sepanjang jarak antara waktu yang dimiliki begitu kecil, semua yang didapat akan menjadi sia-sia. Orang-orang yang berbahagia adalah orang yang mempunyai waktu untuk bekerja dan menikmatinya. Bila gap-nya kurang dari tiga jam, Anda bisa-bisa terperangkap pada hedonic treadmill.

Jadi, buat apa bersusah payah memiliki vila di daerah sejuk, perpustakaan pribadi yang lengkap, rumah dengan kolam renang yang luas, atau dua Ferrari jika tidak pernah memberi kebahagiaan tiada henti? Bukankah memperbaiki sepuluh rumah orang miskin atau memberi beasiswa pada kaum duafa lebih membahagiakan ketimbang hanya melihat benda mati teronggok diam di garasi? Juga lebih membahagiakan membuat perpustakaan yang dibaca banyak kanak-kanak daripada hanya membuat kita kesepian dan ketakutan buku dicuri orang?

RHENALD KASALI
Ketua Program MM UI

http://www.seputar-indonesia. com/edisicetak/content/view/ 392962/

Catatan :
Tulisan di atas saya salin langsung (copy paste) dari opini Dr Rhenald Kasali di Harian Seputar Indonesia. Sungguh, suatu tulisan yang sangat mencerahkan bagi saya pribadi. Saat ini, kekayaan terbesar saya adalah memiliki ibunda yang selalu sayang kepada saya dan saya sayang kepada beliau, istri yang cantik dan pintar, dua anak yang sehat dan cerdas, dan pekerjaan yang dengannya saya ikhlas menjalani. Mudah2an saya selalu bisa bersyukur atas apa yang saya miliki, dan mencoba untuk menjadi yang lebih baik.

Posted by: Edy Suprianto | March 25, 2011

Prihatin yang seprihatin-prihatinnya..

Prihatin bukan siapa-siapa. Tetapi saat kata ‚prihatin‘ dipasangkan dengan kata ‚Presiden‘, kemudian ditelusuri melalui Google, akan menghasilkan 1.400.000 temuan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, prihatin berarti bersedih hati, waswas, bimbang (krn usahanya gagal, mendapat kesulitan, mengingat akan nasibnya, dsb). Dalam bahasa Inggris, kata prihatin dipadankan dengan kata concerned. Kata prihatin berasal dari paduan kata perih hati, ungkapan rasa kepedihan yang mendalam karena suatu peristiwa. Ucapan kata prihatin akan mendatangkan simpati bila hanya sesekali diucapkan, karena prihatin diungkapkan bila ada kejadian luar biasa seperti musibah, kecelakaan, bencana alam, dan perang.

Di negara ini, kata prihatin sering dipakai oleh para pejabat, termasuk presiden kita, dalam menyampaikan pernyataan sikap. Hal ini menggambarkan bahwa negeri ini selalu mengalami kejadian luar biasa. Hasil penelusuran di Google menunjukkan kata prihatin dipakai dalam memberikan pandangan untuk berbagai kasus, antara lain : kisruh kepengurusan PSSI (25 Maret 2011), aksi kekerasan di Libya (23 Maret 2011), teror bom (16 Maret 2011), gempa dan tsunami di Jepang (11 Maret 2011), kenaikan harga minyak (7 Maret 2011), kemiskinan pesisir yang meningkat (14 Februari 2011), insiden penyerang jemaah Ahmadiyah (6 Februari 2011), kerusakan hutan (10 Februari 2011), banyaknya pejabat daerah yang terkena kasus korupsi (1 Desember 2010), kekerasan di Papua (22 Oktober 2010), kasus Gayus yang piknik ke Bali (18 Nopember 2010), penusukan Jemaat HKBP (16 September 2010), Pilkada berbiaya tinggi (16 Agustus 2010), sampai terbitnya buku George Aditjondro (28 Desember 2009). Bila ditelusuri lebih detail, masih banyak kasus lain yang disikapi dengan kata-kata prihatin.

Untuk beberapa kasus seperti bencana alam dan perang, kata ‚prihatin‘ tepat untuk digunakan dalam menyikapi keadaan, karena kita memang tidak bisa berbuat banyak saat berhadapan dengan kekuatan alam, dan bencana perang. Namun, bila kata prihatin dipakai untuk menyampaikan sikap terhadap kasus korupsi, kemiskinan, dan intoleransi hanya akan menunjukkan ketidakberdayaan dalam menghadapi kasus-kasus tersebut. Semestinya para pejabat tidak mengatakan prihatin terhadap korupsi, kemiskinan, perusakan hutan, dan intoleransi, karena mereka memiliki power untuk mengubah keadaan. Bila sang pemegang power hanya bisa berkata prihatin, bagaimana dengan rakyatnya? Akhirnya rakyat hanya bisa prihatin yang seprihatin-prihatinnya atas pernyataan prihatin pejabat atas kondisi yang semakin memprihatinkan di negeri ini.

Posted by: Edy Suprianto | December 3, 2010

Lebih Lestari dengan Varietas Baru

Varietas kelapa sawit memegang peranan yang sangat penting dalam menentukan sustainability suatu usaha perkebunan. Meski dari sisi nilai biaya produksinya cukup kecil (sekitar 4-5%), namun dampaknya sangat besar dan lama sesuai dengan umur ekonomi tanaman, yakni sekitar 25 tahun. Dapat dikatakan bahwa pemilihan bahan tanaman yang baik dan benar merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan dan kelestarian usaha, di samping penerapan aspek kultur teknis yang standar. Untuk mendapatkan varietas unggul kelapa sawit, para pekebun dapat memperoleh secara langsung dari produsen benih yang telah mendapat izin resmi dari Pemerintah. Saat ini banyak varietas kelapa sawit yang ditawarkan oleh produsen benih, dengan masing-masing keunggulannya.

Sebagai salah satu produsen benih kelapa sawit resmi, Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) menyediakan ragam varietas kelapa sawit yang diharapkan mampu memenuhi kebutuhan para pekebun. Dalam tiga tahun terakhir, PPKS telah melepas 3 (tiga) varietas baru kelapa sawit, yang dinamakan DxP PPKS 540, DxP PPKS 718, dan DxP PPKS 239. Ketiga varietas ini merupakan hasil seleksi dari proses pemuliaan panjang yang dirintis sejak tahun 1986. Melalui proses pengamatan dan analisis yang mendalam terhadap ratusan persilangan yang diuji, para pemulia di PPKS telah mendapatkan beberapa persilangan yang menunjukkan keunggulan spesifik, seperti varietas dengan mesokarp yang sangat tebal (high mesocarp variety), varietas bertandan besar (big bunch variety), dan varietas dengan produksi CPO dan PKO yang tinggi (high CPO high PKO).

DxP PPKS 540 merupakan varietas kelapa sawit yang memiliki kandungan mesokarp yang sangat tinggi (high mesocarp), hingga mencapai 90%. Varietas ini berasal dari persilangan antara tetua turunan Dura Deli (PA 131 D self dan TI 221 D x GB 30 D) dengan pisifera turunan murni (pure line) SP 540 T. Tetua SP 540 T sendiri merupakan the best tenera yang dihasilkan oleh pemulia PPKS terdahulu, yang daya adaptasinya sangat luas dan memberikan tingkat produksi yang sangat tinggi. Kandungan mesokarp yang tinggi yang terdapat dalam varietas DxP PPKS 540, membuat varietas ini mampu menghasilkan rendemen minyak sebesar 27,4%, dan rata-rata produksi CPO sebesar 8,1 ton/ha/tahun. Rerata rendemen yang dihasilkan oleh perkebunan kelapa sawit saat ini berkisar pada 22-24%. Tingginya persentase mesokarp pada varietas ini diharapkan dapat memecahkan permasalahan rendemen yang menjadi faktor penting dalam pengusahaan perkebunan kelapa sawit. Sebagai informasi, pada pengusahaan perkebunan seluas 10.000 ha, melalui peningkatan rendemen sebesar 1% akan diperoleh nett revenue sebesar Rp 5 milyar/tahun.

DxP PPKS 718
Untuk pekebun yang memiliki permasalahan kapasitas panen, DxP PPKS 718 merupakan jawabannya. Varietas ini memiliki karakter bobot tandan yang besar (big bunch), 10% lebih tinggi dari rerata bobot tandan umumnya. Rerata bobot tandan varietas pada umur 6 – 9 tahun sebesar 22,8 kg/tandan, dan produksi TBS rata-rata 27 ton/ha/tahun. Seperti umumnya bahan tanaman yang memilki bobot tandan tinggi, maka jumlah tandan yang diproduksinya akan tidak terlalu banyak. Namun demikian, dengan tingginya bobot tandan maka rerata produksi TBS varietas ini jauh lebih tinggi.

DxP PPKS 239
Varietas DxP PPKS 239 merupakan varietas terbaru yang dirilis pada tahun 2010. Varietas ini memiliki keunggulan dalam produksi CPO dan PKO (palm kernel oil). DxP PPKS 239 dapat menghasilkan TBS tinggi, baik pada usia muda maupun dewasa. Didukung oleh karakter rendemen minyak yang tinggi, varietas DxP PPKS 239 menghasilkan 8,4 ton CPO/ha/tahun, dan bahkan pada percobaan mampu menghasilkan sampai 9,7 ton CPO/ha/tahun. Selain itu, varietas ini juga dapat menghasilkan PKO 0,7 – 0.9 ton/ha/tahun. Dengan mempertimbangkan tingkat produksi CPO dan PKO yang tinggi, varietas DxP PPKS 239 dapat menjadi alternatif bagi pekebun yang ingin mendapatkan total economic value yang lebih tinggi dari kedua jenis minyak tersebut.

Posted by: Edy Suprianto | November 11, 2010

Salam Tempel untuk Wajah Mulus Gayus

Kisah Gayus si bolu kukus masih berjalan terus. Semakin lama membuat hati semakin tergerus. Bukan hukuman yang dia dapat, tetapi kemewahan dan fasilitas khusus. Di tengah wedhus gembel yang panas berhembus, dengan nikmatnya dia melenggang ke bali, ber-wig bagus dan berkacamata minus. Berwisata, bergembira, seakan hidup tanpa masalah dan tanpa status. Betapa indahnya hidupmu, duhai Gayus…

Enam puluh delapan kali keluar rutan, Gayus tak pernah terendus. Seperti biasa, dia hanya bermodal salam tempel dan sedikit bonus. Mengemas amplop lima puluh juta rasanya seperti sedekah lima ratus. Buat pakar sehebat Gayus, apa sih yang tidak bisa diurus? Meski dikerangkeng di markas pasukan khusus, toh dia masih bisa menjalankan aksi akal bulus. Nafsu Gayus harus mengorbankan serombongan penjaga yang sering dibelikannya nasi bungkus.

Gayus mungkin lupa, ribuan mata tengah mengamatinya serius. Rambut palsu dan kacamata indahnya tak mampu menutupi raut wajahnya yang semakin mulus. Polahnya yang semakin minus, membuat wajah aparat semakin tirus. Kepercayaan yang tengah dibangun seketika pupus. Masih bisakah mereka berdiri gagah bak patung Dewa Zeus?

Sepertinya lingkaran Gayus dan mafia kasus tak akan pernah bisa diberangus bila aparatnya masih bermental tikus. Berharap masih ada hati bersih nan tulus, yang mampu membuat lingkaran ini terputus.

Celoteh ringan:
*Gayus kalau mau beli wig yang mahalan dikit, napa?
*Gayus mau saingan kacamata sama Afgan ya?
*Gayus kok pakai baju dobel sih di lapangan tenis? Emangnya ngga panas?
*Gayus, besok nyelam di Bunaken, yuk?
*Gayus, besok diundang facial sama Ayin. Gratis! Tapi salam tempelnya jangan lupa ya
*Gayus geto loh…

Posted by: Edy Suprianto | November 11, 2010

Persimpangan yang menentukan

Apa yang Anda lakukan bila anda tengah berada di persimpangan jalan? Kebanyakan kita pasti akan menjawab: berpikir sejenak untuk menentukan arah mana yang akan kita ambil. Bila arah yang kita akan tuju telah kita ketahui secara akurat, maka kita dapat memutuskan dengan cepat jalan yang akan kita lalui. Penuh kepastian, tanpa keraguan.

Beda halnya bila informasi tentang arah yang kita tuju masih kurang jelas. Keraguan selalu datang menyelimuti, saat kita akan mengambil keputusan. Takut salah. Khawatir jalan rusak. Cemas kalau-kalau tidak sampai ke tempat tujuan. Sementara kita diharuskan memutuskan secara cepat, karena banyak orang yang mengantri untuk melewati jalan yang sama.

Hal yang sama tengah menggelayuti pikiran saya yang saat ini tengah berada di titik persimpangan. Persimpangan yang sangat menentukan warna hidup saya di kemudian hari. Persimpangan yang menjadi titik tolak saya untuk menghadapi usia 40an. Usia saat orang-orang mulai berbicara mengenai kemapanan. Usia saat orang lebih banyak berpikir tentang arti hidup untuk keluarga dan komunitas. Tak lagi ada banyak embel-embel pribadi di sana.

Mengumpulkan informasi adalah hal yang saya lakukan. Menggali sebanyak-banyaknya pendapat orang yang saya anggap sebagai mentor dalam hidup saya. Orang yang selalu berharap bahwa saya bisa mencapai sesuatu yang lebih baik dan lebih baik lagi, Berusaha keras untuk menemukan ” the real passion, mission, dan value” dalam hidup saya, yang akan menjadi argumentasi untuk menentukan sikap terhadap persimpangan ini.

Ternyata bukan hal yang mudah untuk bersikap. Banyak hal yang menjadi konsideran, banyak hal yang mesti dipikir lebih dari dua kali. Pilihan yang ditawarkan memang banyak memberikan kontradiksi satu sama lainnya. Pilihan yang menawarkan pergolakan antara idealisme dan realitas hidup. Pilihan yang akan membawa dampak sangat rumit bagi kami yang akan menjalaninya.

Seorang teman mengatakan, yang saya butuhkan hanya keberanian dan konsistensi. Keberanian untuk menghadapi kerumitan, dan konsistensi terhadap pilihan yang telah ditetapkan. Bila dihadapkan pada pilihan, saya pastinya akan lebih memilih keluarga ketimbang ego pribadi. Dan saya juga akan memilih alur yang sedikit rumit, namun memberikan independensi yang lebih dalam menjalani kehidupan. Kadang raga dan hati terlalu lelah untuk hal-hal yang sebenarnya tidak terlalu penting untuk dipikirkan.

Baru teringat sebuah postingan yang pernah saya tulis sebelumnya. Mungkin ini memang jalan yang harus saya tempuh. Berbesar hati dan bersiap menghadapi segala kemungkinan. Seperti yang dikatakan seorang teman, anda yang menentukan jalan hidup Anda sendiri. Follow your heart, think logically, and you will find the answer.

Older Posts »

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.