Posted by: esprito | November 22, 2008

Seberapa besar ikhlasmu?

Sekian lama tidak mengunjungi blog ini. Selain karena kesibukan hari Raya, juga karena memang kelupaan :) . Ada banyak cerita selama 2 bulan. Hanya saja cerita yang terbesar adalah saat aku harus kehilangan telepon genggam.

Sekitar 3 minggu yang lalu, saat dinas ke Jakarta, ada keinginan untuk mengganti chasing telepon genggam. Berangkatlah aku seperti biasa dengan menggunakan angkutan kota ke arah mangga dua. Padahal niatnya kepengen ke Roxy.  Salah arah ternyata..  Baru saja aku duduk di kursi penumpang, dan ingin menanyakan tempat kepada temanku, baru tersadar kalau telepon genggam yang ada di pinggangku menghilang. Dan aku kelimpungan luar biasa. Langsung aku minta pak supir berhenti, dan membayar 5000 rupiah tanpa memikirkan kembaliannya. Andai saja saat itu aku teringat masih ada telpon genggam yang lain, mungkin aku tidak akan kehilangan. Karena aku yakin, teleponku masih berada di antara para penumpang yang duduk di dekat pintu.

Selama satu jam aku kebingungan di daerah stasiun kota. Berjalan berputar-putar tanpa arah. Sampai akhirnya aku putuskan untuk kembali ke hotel, dan merenung. Bukan telpon genggamnya yang kusesali, tetapi banyak sekali nomor penting kolega dan sahabat, serta informasi yang ada di dalamnya. Tapi setelah 1 jam merenung, akhirnya aku mencoba untuk merelakan. Aku berpikir, mungkin orang yang mengambil teleponku sedang membutuhkan uang. Atau mungkin dia sangat suka dengan telepon itu, tetapi malu untukmengatakannya kepadaku secara langsung. Ah, mas atau pak, mudah-mudahan telepon itu bermanfaat ya untuk Anda..

Kalau bicara tentang ‘merelakan atau mengikhlaskan’, memang gampang-gampang sulit. Mudah untuk diucapkan, tetapi sulit sekali untuk dilaksanakan. Seperti kejadianku di atas, selama 2 jam pertama, aku mengutuk, mengumpat, menyesali, sedih, dan lain sebagainya terhadap orang yang melakukan perbuatan itu. Ada periode dimana hati kita defensif, tidak rela atas kejadian yang menimpa kita. Namun sejalan dengan ‘mengalirnya oksigen’ ke otak kita, yang membuat pikiran kita lebih terbuka, maka jendela keikhlasan sedikit demi sedikit terbuka. Hingga pada akhirnya kita bisa menerima dengan lapang dada terhadap kejadian itu.

Intinya adalah apa yang telah hilang dari kita hakikatnya hanya berpindah tempat saja. Proses kehilangan adalah proses melatih hati untuk membuka jendela keikhlasan. Fungsi waktu yang akan menguatkan segalanya..

Salam

Posted by: esprito | September 19, 2008

Sejarah yang ditulis hari ini

Judul di atas merupakan deskripsi singkat mengenai arti dari kata jurnalistik. Sebagai orang awam yang hidupnya jauh dari hingar bingar dunia jurnalistik, pengalaman mendapatkan training singkat jurnalistik menjadi moment yang paling membangkitkan rasa ingin tahu.  Training itu sendiri dilaksanakan di kantor kami di Medan selama 2 hari, dan diikuti oleh sekitar 45 peserta dari beragam latar belakang. Selama training, peserta memperoleh gambaran singkat bagaimana memahami nilai berita, menulis opini, menulis feature, dan juga struktur dari berbagai macam jenis tulisan. Para pembicara yang berasal dari salah satu majalah berita ternama di negeri ini, telah memberikan banyak pengalaman dan sekaligus memberikan dorongan untuk bisa menulis seperti mereka.

Permasalahan terbesar yang kami hadapi untuk bisa menceburkan diri ke dalam dunia jurnalistik adalah menulis dengan gaya bahasa yang populer.  Selama ini, pekerjaan  menuntut kami untuk memberikan tulisan dalam bentuk ilmiah, dengan format penulisan yang baku, serta menghindari kata-kata yang bisa menimbulkan multi persepsi. Sementara dalam gaya bahasa populer, sering digunakan kata-kata yang lebih ekspresif untuk bisa memelihara keingintahuan pembaca hingga ke alinea terakhir. Jadi bagaimana solusinya?

Para pembicara menyatakan bahwa situasi kami bisa menjadi modal yang sangat baik untuk menekuni dunia tulis menulis. Apalagi pekerjaan kami adalah pekerjaan yang sangat spesifik. Jadi gaya bahasa tidak perlu lagi menjadi masalah, dan semuanya lebih bergantung pada usaha kami untuk terus berlatih.  Teringat pesan mereka, “menulislah dari sekarang. Jangan pernah takut akan kehilangan kata-kata. Sejarah itu mudah ditulis karena faktanya adalah nyata”. Ngomong-ngomong, kami ini siapa sih?

Posted by: esprito | August 28, 2008

Artis yang caleg, Caleg yang artis

Gregetan plus miris saat membaca berita mengenai pendaftaran caleg oleh para partai peserta pemilu. Berbondong-bondong para artis diminta (atau meminta) untuk menjadi caleg.  Isi infotainment bukan melulu berisi kawin cerai lagi, tapi sebagai wadah promosi bagi “artis yang caleg” untuk menyampaikan visi dan misinya. Sekali dayung, sepuluh pulau terlampaui. Infotainment dapat berita, artis punya sarana, partai dapat nama. Mudah dan murah. Namun hati ini jadi bertanya-tanya, ada apa dibalik semua itu? Sudah pasti, memanfaatkan keartisan sebagai vote getter, kata Mbak Marisa.. Tapi para pembesar partai bilang, “Oh, kami sudah seleksi secara ketat artis-artis yang akan jadi caleg kami..” (meski pengalamannya cuma pengurus OSIS waktu SMA dulu!!). Kalau para artis itu memang tulus untuk berjuang dan mengabdi pada negara, empat jempol buat mereka. Tapi kalo cuma sekedar untuk mendongkrak popularitas dia dan partainya, cuma seujung kuku yg bisa diberikan.. Apa iya sih penghasilan sebagai artis sudah tidak mencukupi, sehingga perlu beralih menjadi anggota dewan? Apa mereka mau sepenuhnya menjalani fungsi legislatif dan meninggalkan dunia keartisan? Apa partai sudah ngga punya lagi kader yang capable? Tapi ya, namanya juga dunia politik. Semua boleh berpartisipasi..

Posted by: esprito | August 18, 2008

Intermeso, mengenang Chrisye

LIRIH – Chrisye

Kini t’lah kusadari

Dirimu tlah jauh dari sisi

Kutahu tak mungkin kembali kuraih

Semua hanya mimpi

Ingin kucoba lagi

Mengulang yang telah terjadi

Tetapi semua sudah tak berarti

Kau telah pergi

Reff:

Adakah kau mengerti kasih

Rindu hati ini tanpa kau di sisi

Mungkinkah kau percaya kasih

Bahwa diri ini ingin memiliki lagi..

Kusadari kembali

Ternyata semua khayal diri

Kini kutahu tak mungkin ada waktu

Untuk mencintaimu lagi

Kembali ke Reff

Mungkinkah kau percaya kasih

Bahwa diri ini ingin memiliki .. lagi..

Posted by: esprito | June 27, 2008

Sekilas Info

“..Busway-nya ngga jalan, Pak. Ada demo di Atmajaya. Bakar-bakaran mobil..“  Rasanya mau marah aja mendengarnya. Demo bukannya membantu rakyat, malah makin menyengsarakan . Apa mas-mas yang ikut demo itu ngga mikir, kalau mereka membuat keadaan semakin sulit. Apa ngga ada cara lain, yang lebih bijak, damai, dan mengedepankan intelektual? Ngakunya mahasiswa, tapi kok perilaku-nya mirip preman.

“..Jaksa Agung mencopot Jaksa Agung Muda terkait dengan percakapan telepon dengan Artalyta..” Kalau cuma sekedar dicopot mah, ngga ada dampaknya, Boss. Jelas2 isi percakapannya itu menggadaikan jabatan, kok ya masih ada toleransi. Itu baru tiga orang yang terungkap. Kalau ditelusuri lebih jauh makin banyak yang kesandung, kali…

“.. Nonton ANTV beberapa hari yang lalu. Ceritanya tentang skenario untuk menghabisi Munir  dengan empat skenario, disantet, rekayasa kecelakaan, diracun di kantor, dan diracun di pesawat.. Hebat ya, pembuat skenario-nya. Bisa diajukan untuk mendapatkan piala Citra. Lakon dijalani, tujuan berhasil..

“..

Posted by: esprito | June 15, 2008

TV Jerman vs TV Indonesia

Jangan ditanya bedanya, karena memang sudah pasti beda. Lha disana pakai bahasa jerman, di sini pakai bahasa Indonesia. Lalu apa yang mau dibahas disini? Conten-nya, bro.. Cieeee.. Sepanjang 29 bulan hidup di negara sana, nonton TV berarti tambah pinter. Kok bisa? Iya, karena program TV disana memang lebih banyak unsur edukasi-nya untuk segala tingkatan umur, meski hiburannya juga banyak. Paling senang nonton Galileo di Prosieben yang presenternya Oom Aiman Abdallah (sepintas orangnya mirip George Clooney). Banyak hal baru yang bisa kita dapat. Topiknya sederhana tapi dekat dengan keseharian kita. Kepenginnya TV kita bisa seperti ini, atau minimal bebas dari sinetron :D ..

Posted by: esprito | June 13, 2008

Tanya jawab tentang industri benih kelapa sawit

Bagaimana kondisi bisnis benih sawit sekarang ini?

Situasi industri benih kelapa sawit dapat dikatakan berada dalam kondisi puncak. Hal dapat dilihat dengan tingginya permintaan akan benih kelapa sawit oleh pengusaha perkebunan (PTPN, swasta, dan perkebunan rakyat) baik untuk kebutuhan pengembangan maupun peremajaan.

Seberapa jauh pengaruh harga CPO yang makin tinggi terhadap harga benih dan permintaan benih?

Semakin membaiknya harga CPO, serta adanya kebijakan pemerintah untuk mendukung industri kelapa sawit melalui program revitalisasi perkebunan mendorong para pengusaha/pekebun untuk melakukan ekspansi, dan ini berdampak kepada tingginya permintaan benih kelapa sawit. Adapun kenaikan harga benih kelapa sawit yang terjadi di tahun 2008 ini tidak terkait langsung dengan kenaikan harga CPO. Kenaikan harga benih lebih ditujukan untuk menyeimbangkan dengan biaya produksi, serta untuk perbaikan kualitas sistem produksi, kualitas produk benih, serta peningkatan kualitas pelayanan bagi konsumen.

Berapa total kebutuhan benih sawit nasional sekarang ini? Seberapa besar kemampuan produksi benih dari produsen dalam negeri?

Bila mengacu kepada data laju pengembangan perkebunan kelapa sawit di Indonesia selama tiga tahun terakhir (sekitar 600.000 ha/tahun,) ditambah dengan kebutuhan peremajaan (sekitar 5% dari total luasan areal perkebunan yang ada – 6 juta ha, setara dengan 300.000 ha) maka permintaan riil-nya mencapai 180 juta butir kecambah (asumsi kebutuhan kecambah 200 butir/ha). Data dari Direktorat Perbenihan menyatakan bahwa permintaan kecambah saat ini telah mencapai 220 juta butir, sementara kapasitas produksi benih kelapa sawit dalam negeri (7 produsenbenih ) sebesar 150 juta butir. Adanya kesenjangan antara permintaan dan ketersediaan sebesar 70 juta kecambah, kemungkinan akan dipenuhi melalui jalur impor benih kelapa sawit.

Berapa kemampuan produksi benih sawit dari PPKS? Sudah mampukah memenuhi permintaan pasar? Siapa saja yang membeli benih dari PPKS?

PPKS memiliki kapasitas produksi benih kelapa sawit sebesar 45 juta butir per tahun, sementara permintaan mencapai 59 juta butir. Terus terang saat ini PPKS kewalahan untuk melayani permintaan benih yang demikian tinggi. PPKS menyalurkan benih kepada perkebunan negara (PTPN), perkebunan swasta, perkebunan rakyat, juga kepada Dinas-dinas terkait (Dinas Perkebunan dan Dinas Kehutanan), koperasi, dan juga untuk waralaba bibit.

Berapa varietas yang disediakan PPKS, dan varietas apa yang paling banyak diminta? Kapan mulai bisa dipanen TBS-nya dan berapa produktivitas CPO-nya per hektar dan sampai berapa umur ekonomisnya? Berapa harganya?

PPKS telah merilis varietas kelapa sawit sejak tahun1984-1985 sebanyak 8 varietas (DxP Dolok Sinumbah, DxP Bah Jambi, DxP Marihat, DxP La Me, DxP AVROS, DxP Yangambi, DxP Sungai Pancur 1(Dumpy) dan DxP Sungai Pancur 2), tahun 2002 sebanyak 2 varietas (DxP Simalungun dan DxP Langkat) dan yang terbaru tahun 2007 sebanyak 2 varietas (DxP PPKS 540 dan DxP PPKS 718). Varietas yang paling banyak diminta umumnya DxP Simalungun dan DxP Langkat, serta beberapa DxP lainnya, seoerti Dumpy dan Yangambi. Harga benih kelapa sawit saat ini Rp 4500 untuk DxP Simalungun, DxP Langkat, DxP SP 1 (Dumpy), DxP PPKS 540 dan DxP 718, dan Rp 4000 untuk DxP lainnya. Panen TBS dapat dilakukan mulai umur 28-30 bulan setelah tanam di lapang, dan umur ekonomis sampai 25 tahun. [Catatan : Per 1 Agustus 2008, harga kecambah PPKS telah disesuaikan, menjadi Rp 7000 dan Rp 6000 per butirnya]

Sepengetahuan kami, PPKS melakukan waralaba benih. Apa saja pertimbangannya? Bukankah ada kekhawatiran tentang ketidaksamaan kualitas benih yang diproduksi oleh pewaralaba? Bagaimana perjanjian bagi hasilnya (kalau kami boleh tahu)? Berapa jumlah produksi benih dari waralaba?

Secara definisi, waralaba adalah suatu bentuk kerjasama dimana pewaralaba (franchisor) memberikan ijin pada terwaralaba (franchisee) untuk menggunakan hak atas kekayaan intelektualnya, seperti nama, merek usaha dagang, produk dan jasa serta sistem operasi usahanya. PPKS sebagai franchsior melakukan tiga jenis waralaba benih, yakni

Waralaba varietas berarti produsen benih (pemilik varietas, dalam hal ini PPKS) akan mereproduksi pohon induk hasil program pemuliaannya, dan melakukan kerjasama dengan pewaralaba. Dengan material induk tersebut franchisee akan dapat menghasilkan dan menyalurkan varietas kelapa sawit yang sama persis seperti yang dihasilkan oleh PPKS

Waralaba benih berarti PPKS menyerahkan benih hasil persilangan terkontrol (umumnya pre heated seeds) untuk dikecambahkan/diproses di Seed Processing Unit milik terwaralaba.

Waralaba bibit berarti produsen benih menyerahkan kecambah untuk dibibitkan oleh penerima waralaba mengikuti kaidah-kaidah yang ditentukan oleh produsen benih

Sebagai timbal baliknya, terwaralaba membayar suatu jumlah tertentu atas pemberian dan penggunaan hak atas kekayaan intelektual yang dimiliki oleh pewaralaba dalam kurun waktu tertentu, yang kesemuanya diatur dalam nota kesepakatan kerjasama.

Waralaba benih dilakukan dengan tujuan untuk lebih memudahkan akses bagi petani/konsumen (di daerah-daerah remote umumnya) untuk mendapatkan benih/bibit kelapa sawit berkualitas. Secara kualitas, produk yang dihasilkan oleh sistem waralaba ini sama dengan yang dihasilkan oleh PPKS, karena adanya sistem pengawasan ketat dalam seleksi franchisee dan supervisi reguler dari PPKS dalam pelaksanaan waralaba tersebut. Hingga saat ini sudah lebih dari 3 juta kecambah disalurkan untuk memenuhi waralaba bibit.

Sampai kapan kira-kira bisnis benih sawit masih cerah?

Industri benih kelapa sawit dalam negeri masih akan terus berkembang sejalan dengan rencana pengembangan perkebunan kelapa sawit. Menurut prediksi, luas areal perkebunan kelapa sawit Indonesia masih akan terus bertambah hingga mencapai luasan 10 juta ha pada 5-7 tahun ke depan. Dengan demikian, industri benih masih akan terus diperlukan untuk mendukung kebutuhan pengembangan tersebut, dan juga untuk mendukung kebutuhan peremajaan.

Posted by: esprito | June 13, 2008

Kehilangan motivasi, memotivasi yang hilang

Motivasi hilang. Hidup tak bergairah. Pikiran buntu. Tidak ada semangat kerja. Kinerja turun. Prestasi nihil. Mengapa bisa terjadi? Banyak sekali alasan di balik itu, meski sebenarnya 90% adalah alasan yang dibuat-buat. Apa iya the Law of Deminishing Return juga berlaku di perilaku keseharian kita-kita? Ada yang bilang, refreshing adalah jalan keluarnya. Tapi ternyata tidak juga, tuh.  Habis refreshing bukannya fresh, tetapi malah lebih jumud. Kemalasan luar biasa baru sekali ini menerpa. Mungkin karena banyak sekali keinginan yang menggebu-gebu, tapi tidak diiringi dengan realisasi. Ada banyak pengharapan tanpa mempertimbangkan situasi aktual. Jadi, harus gimana lagi dong?

Ada yang bilang, mulailah ikhlas dalam bekerja. Buat sesuatu yang baru, yang tidak pernah dilakukan sebelumnya. Berharap boleh, tapi jangan over. Bermimpi boleh, tapi ingat kaki tetap menjejak ke bumi. Tulis lagi semua yang baik-baik yang pernah dilakukan. Berikan senyum yang tulus dalam keseharian. Bagaimana halnya bila kita disudutkan pada keadaan yang tidak kita sukai? Mencoba berdamai bila tidak ada pilihan lain. Mencoba mengubah paradigma bila memungkinkan. Jangan korbankan diri untuk sesuatu yang ngga bernilai sama sekali.

Cari kembali sesuatu yang hilang itu. Bisa di sudut kantor, tengah rumah, pinggir mall, atau malah di bawah tempat tidur.

(Baru juga nulis, sudah dapat sms kerjaan lagi..)

Posted by: esprito | June 9, 2008

ada yang salah dengan negeri ini? (Part 2)

Melihat kemajuan yang terjadi di Malaysia, Singapura, dan China, dadaku serasa sesak. Iri? Sudah pasti. Gregetan? Apalagi. Kenapa sih negara kita tidak bisa seperti mereka? Bila dilihat dari sumber daya, rasanya  negara kita lebih ok. Jadi apanya yang salah? Peraturannya kali? Orang-orang kita paling pintar kalau disuruh buat peraturan.  Atau orang-nya? Banyak baik, kok.. Cuma persentase-nya sedikit. Atau komitmen-nya? Bisa jadi.. Kita punya sumberdaya bagus. Kita punya peraturan bagus. Kita punya orang2 yang baik dan pintar. Tapi kalau tidak komitmen?

Posted by: esprito | May 26, 2008

Kerja besar telah usai

Minggu lalu, minggu yang penuh dengan tekanan. Event yang kita siapkan setahun yang lalu telah usai. World Palm Oil Summit & Exhibition (WPOSE) 2008, namanya. Banyak yang melontarkan kata “Selamat dan Sukses” atas penyelenggaraan ini. Memang bukan kerja yang biasa, tapi kerja yang penuh tantangan dan dinamika. Alhamdulillah kita bisa menghadirkan RI-2 untuk membuka acara ini. Setidaknya ini jadi barometer atas perhatian pemerintah terhadap event-event yang kita selenggarakan. Para peserta pun sudah mulai bertanya, “Kapan WPOSE akan diadakan lagi?”

Older Posts »

Categories