Bagaimana kondisi bisnis benih sawit sekarang ini?
Situasi industri benih kelapa sawit dapat dikatakan berada dalam kondisi puncak. Hal dapat dilihat dengan tingginya permintaan akan benih kelapa sawit oleh pengusaha perkebunan (PTPN, swasta, dan perkebunan rakyat) baik untuk kebutuhan pengembangan maupun peremajaan.
Seberapa jauh pengaruh harga CPO yang makin tinggi terhadap harga benih dan permintaan benih?
Semakin membaiknya harga CPO, serta adanya kebijakan pemerintah untuk mendukung industri kelapa sawit melalui program revitalisasi perkebunan mendorong para pengusaha/pekebun untuk melakukan ekspansi, dan ini berdampak kepada tingginya permintaan benih kelapa sawit. Adapun kenaikan harga benih kelapa sawit yang terjadi di tahun 2008 ini tidak terkait langsung dengan kenaikan harga CPO. Kenaikan harga benih lebih ditujukan untuk menyeimbangkan dengan biaya produksi, serta untuk perbaikan kualitas sistem produksi, kualitas produk benih, serta peningkatan kualitas pelayanan bagi konsumen.
Berapa total kebutuhan benih sawit nasional sekarang ini? Seberapa besar kemampuan produksi benih dari produsen dalam negeri?
Bila mengacu kepada data laju pengembangan perkebunan kelapa sawit di Indonesia selama tiga tahun terakhir (sekitar 600.000 ha/tahun,) ditambah dengan kebutuhan peremajaan (sekitar 5% dari total luasan areal perkebunan yang ada – 6 juta ha, setara dengan 300.000 ha) maka permintaan riil-nya mencapai 180 juta butir kecambah (asumsi kebutuhan kecambah 200 butir/ha). Data dari Direktorat Perbenihan menyatakan bahwa permintaan kecambah saat ini telah mencapai 220 juta butir, sementara kapasitas produksi benih kelapa sawit dalam negeri (7 produsenbenih ) sebesar 150 juta butir. Adanya kesenjangan antara permintaan dan ketersediaan sebesar 70 juta kecambah, kemungkinan akan dipenuhi melalui jalur impor benih kelapa sawit.
Berapa kemampuan produksi benih sawit dari PPKS? Sudah mampukah memenuhi permintaan pasar? Siapa saja yang membeli benih dari PPKS?
PPKS memiliki kapasitas produksi benih kelapa sawit sebesar 45 juta butir per tahun, sementara permintaan mencapai 59 juta butir. Terus terang saat ini PPKS kewalahan untuk melayani permintaan benih yang demikian tinggi. PPKS menyalurkan benih kepada perkebunan negara (PTPN), perkebunan swasta, perkebunan rakyat, juga kepada Dinas-dinas terkait (Dinas Perkebunan dan Dinas Kehutanan), koperasi, dan juga untuk waralaba bibit.
Berapa varietas yang disediakan PPKS, dan varietas apa yang paling banyak diminta? Kapan mulai bisa dipanen TBS-nya dan berapa produktivitas CPO-nya per hektar dan sampai berapa umur ekonomisnya? Berapa harganya?
PPKS telah merilis varietas kelapa sawit sejak tahun1984-1985 sebanyak 8 varietas (DxP Dolok Sinumbah, DxP Bah Jambi, DxP Marihat, DxP La Me, DxP AVROS, DxP Yangambi, DxP Sungai Pancur 1(Dumpy) dan DxP Sungai Pancur 2), tahun 2002 sebanyak 2 varietas (DxP Simalungun dan DxP Langkat) dan yang terbaru tahun 2007 sebanyak 2 varietas (DxP PPKS 540 dan DxP PPKS 718). Varietas yang paling banyak diminta umumnya DxP Simalungun dan DxP Langkat, serta beberapa DxP lainnya, seoerti Dumpy dan Yangambi. Harga benih kelapa sawit saat ini Rp 4500 untuk DxP Simalungun, DxP Langkat, DxP SP 1 (Dumpy), DxP PPKS 540 dan DxP 718, dan Rp 4000 untuk DxP lainnya. Panen TBS dapat dilakukan mulai umur 28-30 bulan setelah tanam di lapang, dan umur ekonomis sampai 25 tahun. [Catatan : Per 1 Agustus 2008, harga kecambah PPKS telah disesuaikan, menjadi Rp 7000 dan Rp 6000 per butirnya]
Sepengetahuan kami, PPKS melakukan waralaba benih. Apa saja pertimbangannya? Bukankah ada kekhawatiran tentang ketidaksamaan kualitas benih yang diproduksi oleh pewaralaba? Bagaimana perjanjian bagi hasilnya (kalau kami boleh tahu)? Berapa jumlah produksi benih dari waralaba?
Secara definisi, waralaba adalah suatu bentuk kerjasama dimana pewaralaba (franchisor) memberikan ijin pada terwaralaba (franchisee) untuk menggunakan hak atas kekayaan intelektualnya, seperti nama, merek usaha dagang, produk dan jasa serta sistem operasi usahanya. PPKS sebagai franchsior melakukan tiga jenis waralaba benih, yakni
• Waralaba varietas berarti produsen benih (pemilik varietas, dalam hal ini PPKS) akan mereproduksi pohon induk hasil program pemuliaannya, dan melakukan kerjasama dengan pewaralaba. Dengan material induk tersebut franchisee akan dapat menghasilkan dan menyalurkan varietas kelapa sawit yang sama persis seperti yang dihasilkan oleh PPKS
• Waralaba benih berarti PPKS menyerahkan benih hasil persilangan terkontrol (umumnya pre heated seeds) untuk dikecambahkan/diproses di Seed Processing Unit milik terwaralaba.
• Waralaba bibit berarti produsen benih menyerahkan kecambah untuk dibibitkan oleh penerima waralaba mengikuti kaidah-kaidah yang ditentukan oleh produsen benih
Sebagai timbal baliknya, terwaralaba membayar suatu jumlah tertentu atas pemberian dan penggunaan hak atas kekayaan intelektual yang dimiliki oleh pewaralaba dalam kurun waktu tertentu, yang kesemuanya diatur dalam nota kesepakatan kerjasama.
Waralaba benih dilakukan dengan tujuan untuk lebih memudahkan akses bagi petani/konsumen (di daerah-daerah remote umumnya) untuk mendapatkan benih/bibit kelapa sawit berkualitas. Secara kualitas, produk yang dihasilkan oleh sistem waralaba ini sama dengan yang dihasilkan oleh PPKS, karena adanya sistem pengawasan ketat dalam seleksi franchisee dan supervisi reguler dari PPKS dalam pelaksanaan waralaba tersebut. Hingga saat ini sudah lebih dari 3 juta kecambah disalurkan untuk memenuhi waralaba bibit.
Sampai kapan kira-kira bisnis benih sawit masih cerah?
Industri benih kelapa sawit dalam negeri masih akan terus berkembang sejalan dengan rencana pengembangan perkebunan kelapa sawit. Menurut prediksi, luas areal perkebunan kelapa sawit Indonesia masih akan terus bertambah hingga mencapai luasan 10 juta ha pada 5-7 tahun ke depan. Dengan demikian, industri benih masih akan terus diperlukan untuk mendukung kebutuhan pengembangan tersebut, dan juga untuk mendukung kebutuhan peremajaan.
Tulis juga dong kalau produsen lain juga kewalahan, sehingga banyak cara konsumen untuk ingin memperoleh kebutuahan benihnya namun sudah tidak memperhatikan etika bisnis lagi, sehingga satu-satunya cara menaikkan harga dengan harga yang irrasional seperti harga minyak dunia yang irrasional saat ini….
By: eko dermawan on July 12, 2008
at 6:00 pm
Saat ini diperkirakan kebutuhan benih nasional sudah mencapai 250 juta butir dengan luasan 1,2 juta ha hal ini merupakan angka irrasional karena perkiraan sebelumnya kebutuhan hanya 120 – 140 juta butir pertahun sama dengan penanaman 600 – 700 ribu ha per tahun sehingga angka tersebut meningkat menjadi 1,2 juta ha untuk tahun 2008 menurut saya sudah irrasional…..karena harus dipertimbangkan juga kebutuhan SDM, sarana produksi perkebunan seperti ketersediaan pupuk, alat berat, bbm, dan lainnya….
By: eko dermawan on July 12, 2008
at 6:19 pm
boleh tau alamat dan no telepon PPKS, terima kasih atas bantuannya
By: ARIS on July 17, 2008
at 1:00 pm
bagaimana caranya mengetahui kecambah dan bibit kelapa sawit itu illegitim( palsu)?
By: surya on July 23, 2008
at 10:10 am
Duh, punten teman2. Baru bisa respon sekarang. Kebetulan sekarang lagi ada di negeri BMW, jadi kelupaan untuk buka blog ini.
Untuk Kang Eko, saya setuju. Memang sekarang jaman yang sudah tidak irrasional lagi. Mereka bilang, mau beli kecambah berapa pun harganya, yang penting ada. Khwatirnya ini akan jadi masalah di kemudian hari. Andaikan ada kebijakan mengenai tahapan perluasan areal kelapa sawit, mungkin produsen benih tidak keteteran seperti sekarang..
By: esprito on July 23, 2008
at 11:33 am
Buat Mas Aris, berikut alamat PPKS :
Jl. Brigjen Katamso No. 51 Medan 20158
Telp 061-7862477 Fax 061-7862488, admin@iopri.org
Informasi mengenai kecambah dapat menghubungi Bapak Ir Ferry Salman, MM (manajer pemasaran).
Terima kasih banyak udah mampir di “warung saya” dan salam kenal.
By: esprito on July 23, 2008
at 11:36 am
Untuk Mas Surya, secara morfologi, benih kelapa sawit ilegitim tidak dapat dibedakan dengan benih asli. Mungkin akan saya tulis segera mengenai pokok bahasan ini. Yg terpenting adalah petani menghubungi langsung produsen benih (tanpa perantara), untuk memastikan bahwa benih yang didapat memang benih asli yang mutu genetik, fisik, dan fisiologinya dapat dipertanggungjawabkan.
salam kenal untuk mas Surya..
By: esprito on July 23, 2008
at 11:40 am
Cari yang palsu saja sulit apalagi yang asli…. piye to mas…… tak lelo lelo lelo ledhung……….
By: Triyanto on July 23, 2008
at 3:48 pm
Ini Mas Triyanto yang di pangkalan bun, ya? Waduh, suwun sanget sudah mampir, mas.. Hehehehe, ungkapan Mas Tri bikin kita2 jadi mikir berkali2 untuk sosialisasi benih unggul. Pertanyaan temen2 petani sama di setiap tempat.. “Iya pak, kami sudah ngerti benih unggul, cuma kok susah sekali ya mendapatkannya?..” Yen sama2 sulit, mendingan pilih yang asli, ya Mas? Salam buat teman2 di sana, dan semoga kumisnya masih tetap tebal
)
By: esprito on July 23, 2008
at 11:27 pm
saya ada benih dxp cemara. 345 bln 567 bln dan 789 bln serta 101112 bln. berapa harga pasaran sekarang
By: hisham ismail on July 30, 2008
at 9:29 pm
Seharusnya pemerintah memfasilitasi pengadaan benih ke petani (ora malah melu payu lan nggawe ribet produsen benih). Sudah pajak ekspor tinggi, ngurus HGU complicated and costly, pupuk langka dan larang. dadi pemerintah mbok yo jangan isane mung mrentah lan nglarang……
Mbah Habibie pernah cerita; selama ini hanya pandai ngegas dan ngerem…. tapi raiso nyetir….. lha yo nabrak-nabrak to…..
By: Triyanto on July 31, 2008
at 11:38 am
Untuk Mas Triyanto, mendingan saat ini tidak usah nanam sawit tapi menanam komoditi pangan utuk membantu mengatasi kesulitan pemerintah seperti padi, kedelai atau jagung… karena kalau semua rame-rame nanam sawit jadi siapa yang nanam padi????
By: desprito on August 3, 2008
at 11:39 pm
Untuk mas Tri dan mas desprito (ampir mirip sama ID saya hehehe), monggo diatur.. Mungkin pemerintah perlu mengatur kembali regionalisasi pangan, wilayah mana yg jadi sentra tanaman pangan, mana yang bisa dikembangkan untuk perkebunan.. kata orang, biar ketahanan pangan kita terjaga. gitu…
By: esprito on August 3, 2008
at 11:59 pm
Bulan kemarin saya ngasih training kelapa sawit pada salah satu perusahaan di Beijing yang akan ekspansi kebun sawit di Congo, Liberia dansebagian Kalimantan. Yang menjadi curiousity adalah bahwa kenapa mereka begitu antusias mau ekspansi kelapa sawit. Lha kalau mereka saja sangat tertarik kok kita malah mlempem… ki piye to?
Denmas Desprito: ketahahan pangan menurut saya diperoleh kalau masyarakat memiliki daya beli yg cukup untuk membeli bahan pangan, jadi nggak perlu nanam tanaman pangan jika nanam sawit lebih menguntungkan dan membuat lebih sejahtera…. lha masalahnya yang ekspansi di Indonesia saat ini sebagian besar itu perusahaan besar, bukan petani….. itulah sebabnya saya ngomel kenapa pemerintah hanya berpangku tangan terhadap nasib petani kecil. Ora usah 2-4 ha per KK, cukup 4 – 6 batang per KK saja tanam sawit di pekarangannya saya pikir cukup untuk menopang ketahanan pangan. Coba saja hitung: satu pohon per bulan memproduksi 2 janjang x 20 kg x Rp. 1.500,- x 5 pohon = Rp. 300.000,-/bln (cukup untuk nomboki beli beras setara 50 kg). Kuncinya menurut saya adalah disbun masing2 daerah memfasilitasi pengadaan bibit kelapa sawit…. (sebagian daerah sudah melakukannya).
Termasuk kita-kita ini…. selama ini sudah berapa ratus ribu mbuatkan kebun orang, tapi kita ora ndhuwe…. sudah saatnya kita juga berladang…. betul nggak denmas?
By: Triyanto on August 8, 2008
at 3:49 pm
salam kenal semua sy br diblog ini..sy mo tanya benih sawit yg bagus varietas apa yaa??thankkss
By: gerry on August 14, 2008
at 11:28 pm
Salam Mas esprito,coba2 memberanikan diri untuk masuk numpang nanya,mengenai PPKS dalam upaya Waralaba benih,dalam hal ini saya mewakili sekolompok “wong pinggiran” cah cino kebon sayur yang sudah terbiasa bergulat usaha kebon2 sayuran dan perkebonan macem2 lain2nya,namun ..dalam hal informasi agrobisnis kami cah cino2 kebon sayur hampir bisa dikatakan tak tersentuh angin sepoi2 informasi2 tersebut,nah..hal ini dikarenakan minimnya pendidikan mereka(Para Orang tua saya).
Saya merasa KICK OFF sosialisasi informasi instansi2 terkait dalam dunia Agrobisnis dalam hal ini seperti contoh Waralaba PPKS belum benar2 menyentuh sudut2 aspek masyarakat,seperti halnya Fenomena Pertumbuhan tanaman dilapisan tanah,Tanaman ditanam hanya sebatas permukaan saja,tetapi tidak ditanamkan dikedalaman tanah sebagaimana semestinya tanaman bisa tumbuh.
Maksud saya begini loh Mas,Esprito..,beberapa hari ini ada teman orang tua saya meminta saya untuk mencarikan Bibit sawit marihat yg unggul asli dan bersetifikat,nah..saya berpikir kenapa mereka bisa tidak mengetahui dimana bibit sawit bisa dibeli,sedangkan mereka dalam hal pertanian sudah berpengalaman puluhan tahunan,tanya2 punya tanya akhirnya saya menyadari satu hal ini.
Akhirnya saya mencoba menyelusuri dari berbagai sumber,nah…di medan, saya banyak sekali menjumpai tempat2 menjual bibit sawit,nah..setau saya bibit asli cuma bersumber dari produsen benih terakreditasi.saya jadi bingung,nah..sampai akhirnya saya mengetahui system Waralaba yang digelar PPKS.namun..saya berpikir apakah tempat2 penjual bibit tersebut adalah waralaba dari PPKS? tapi kok ga ada Plang tanda seperti contoh misalnya Plang tanda TRUP atau embel2 Waralaba PPKS nya.
Akhirnya saya pusing kelapa e.eh kepala 7 keliling + jalan2 keliling keliling akhirnya nyasar ke kampung keling..hehe,ok..mas,esprito..apakah PPKS ada salinan atau Daftar resmi Waralaba2 tersebut..agar kita sebagaimana masyarakat bawah sebagai target program waralaba PPKS tersebut benar2 bisa memanfaatkan Program tersebut untuk kemudahan kami sebagai masyarakat petani kecil.dimana bisa saya temukan atau lihat daftar2 Waralaba2 tersebut.atau mungkin Mas ada petunjuk buat kami. saya harap pencerahannya dari Mas,esprito…sebelum dan sesudahnya saya Ucapkan KAMSIAA(Terimakasih) yaa Mas,Esprito..sneng bisa mapir diwarung Mas..,tapi sayang kalau Warung Tampa Kopi hehehehe..
By: Herwindo on September 19, 2008
at 4:44 pm
Salam kenal Mas,
Kelompok tani kami tertarik untuk melakukan usaha pembibitan benih kelapa sawit dari PPKS dengan sistem, waralaba. Bisa kasih ulasan singkat tentang mekanisme pengajuan menjadi terwaralaba? Makasih mas.
By: Irkhamiawan on October 24, 2008
at 10:18 pm
mas esprito sy mo nanya apakah di kalimantan barat sudah ada usaha pembibitan benih kelapa sawit dari PPKS dgn sistem waralaba???apakah varietas DxP PPKS 540 dan DxP PPKS 718) cocok jika dibudidayakan dikalimantan barat??apa kelebihan nya dgn varietas marihat dan sucofindo???sy ada beli biji sawit bagaimana cara untuk menumbuhkan kecambahnya??,mas ya mas bnyk nanya hehe..terima kasih
By: gerry on December 13, 2008
at 10:24 am
Salam Kenal Mas Esprito saya dengar ada bibit Topas yg ditanam Perusahan Dekat Tmpt Tinggal SAya saya mau nanya bibit ini Produk Dri BAlitan Mana Tolong mas Kalau punya datanya saya minta Infonya Trimakasih sebelumnya
By: Seno on June 2, 2009
at 10:27 am
Yth. Mas Seno, saya mohon maaf atas reply saya yang sangat terlambat. Bibit kelapa sawit Topaz diproduksi oleh PT Tunggal Yunus Estate (Asian Agri Group). Dirilis pada tahun 2004 sebanyak varietas yakni, DxP Topaz 1 S/d DxP Topaz 4. Material genetik yang digunakan berasal dari Costarica. Mengenai data dan informasi lengkapnya mungkin Bapak bisa kontak langsung PT Tunggal Yunus Estate yang berlokasi di Pekanbaru.
Salam
edy
By: esprito on September 24, 2009
at 10:02 am