Seberapa besar ikhlasmu?

Sekian lama tidak mengunjungi blog ini. Selain karena kesibukan hari Raya, juga karena memang kelupaan🙂. Ada banyak cerita selama 2 bulan. Hanya saja cerita yang terbesar adalah saat aku harus kehilangan telepon genggam.

Sekitar 3 minggu yang lalu, saat dinas ke Jakarta, ada keinginan untuk mengganti chasing telepon genggam. Berangkatlah aku seperti biasa dengan menggunakan angkutan kota ke arah mangga dua. Padahal niatnya kepengen ke Roxy.  Salah arah ternyata..  Baru saja aku duduk di kursi penumpang, dan ingin menanyakan tempat kepada temanku, baru tersadar kalau telepon genggam yang ada di pinggangku menghilang. Dan aku kelimpungan luar biasa. Langsung aku minta pak supir berhenti, dan membayar 5000 rupiah tanpa memikirkan kembaliannya. Andai saja saat itu aku teringat masih ada telpon genggam yang lain, mungkin aku tidak akan kehilangan. Karena aku yakin, teleponku masih berada di antara para penumpang yang duduk di dekat pintu.

Selama satu jam aku kebingungan di daerah stasiun kota. Berjalan berputar-putar tanpa arah. Sampai akhirnya aku putuskan untuk kembali ke hotel, dan merenung. Bukan telpon genggamnya yang kusesali, tetapi banyak sekali nomor penting kolega dan sahabat, serta informasi yang ada di dalamnya. Tapi setelah 1 jam merenung, akhirnya aku mencoba untuk merelakan. Aku berpikir, mungkin orang yang mengambil teleponku sedang membutuhkan uang. Atau mungkin dia sangat suka dengan telepon itu, tetapi malu untukmengatakannya kepadaku secara langsung. Ah, mas atau pak, mudah-mudahan telepon itu bermanfaat ya untuk Anda..

Kalau bicara tentang ‘merelakan atau mengikhlaskan’, memang gampang-gampang sulit. Mudah untuk diucapkan, tetapi sulit sekali untuk dilaksanakan. Seperti kejadianku di atas, selama 2 jam pertama, aku mengutuk, mengumpat, menyesali, sedih, dan lain sebagainya terhadap orang yang melakukan perbuatan itu. Ada periode dimana hati kita defensif, tidak rela atas kejadian yang menimpa kita. Namun sejalan dengan ‘mengalirnya oksigen’ ke otak kita, yang membuat pikiran kita lebih terbuka, maka jendela keikhlasan sedikit demi sedikit terbuka. Hingga pada akhirnya kita bisa menerima dengan lapang dada terhadap kejadian itu.

Intinya adalah apa yang telah hilang dari kita hakikatnya hanya berpindah tempat saja. Proses kehilangan adalah proses melatih hati untuk membuka jendela keikhlasan. Fungsi waktu yang akan menguatkan segalanya..

Salam

2 thoughts on “Seberapa besar ikhlasmu?

  1. Ass.wr.wb

    Saya ikut sedih atas musibah kecil ini, imbasnya saya kehilangan kontak person dengan “esprito”, sahabat saya yang kreatif sejak dari bangku kuliah dulu. Tapi Insya Allah, hikmahnya kita jadi lebih berhati-hati dalam segala situasi dan utamanya keikhlasan kita bertambah, karena kita yakin bahwa sebagian harta kita hanya titipan Allah, yang dengan mudah Allah pindah tangankan sesuai dengan kehendak-Nya. Boleh dikirim kontak person yang baru ? Biar silaturahmi kita tetap terjaga. Tks

    • Ini wahyu widayati Agro 30 ya? Hallo Tiek, terimas kasih ya.. Maaf terlambat sekali untuk merespon-nya. Tapi setidaknya udah kontak lewat facebook ya? hehehehe.. Utk nomor kontak, masih tetap yang lama. salam untuk keluarga..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s