Sensitif, sensitifitas

Membaca berita sepanjang minggu ini, baik melalui media massa, internet, maupun melihat di televisi,  membuat perasaan terdalam terasa perih bagai tertusuk sembilu . Tidak biasanya saya merasa sensitif terhadap pemberitaan media. Selama ini saya lebih banyak tidak peduli. Namun pemberitaan kali ini benar-benar membuat nurani terdalamku tidak mampu mencerna dan menerimanya. Kesemuanya menggambarkan bahwa sensitifitas bangsa ini terhadap situasi saudaranya benar-benar sirna.

Berita pertama berkaitan dengan musyawarah nasional yang digelar oleh salah satu partai politik. Saat bangsa ini tengah berdarah-darah menghadapi bencana nasional gempa bumi di Sumatera Barat, desas desus pembelian suara seharga 1 milyar berhembus keras dari provinsi tetangga. Nalar ini benar-benar tak mampu berpikir dan mengikuti pola pikir para pemikir hebat yang ikut serta dalam musywarah tersebut. How come? How could? Tak adakah hati mereka berbicara bahwa pada saat mereka bertransaksi untuk pemilihan ketua, ribuan saudara yang tak jauh dari mereka tengah terhuyung-huyung menghadapi musibah? begitu kecilkah arti 1 milyar bagi para petinggi itu?  Saya tak sanggup menjawabnya..

Berita kedua tentang press release dari Bapak Dirjen Pajak yang terhormat, yang menyatakan bahwa potensi kerugian penerimaan pajak akibat gempa mencapai Rp 150 milyar. Bila dilihat sekilas, berita ini adalah berita biasa, tak lebih. Tetapi ungkapan ini sekali lagi menunjukkan bahwa sensitifitas terhadap musibah dan penderitaan bangsa tidak cukup dipunyai oleh banyak orang di negeri ini. Saat semua pihak berlomba-lomba membantu untuk memberikan bantuan, tidak hanya dalam bentuk materil, namun juga melalui rasa simpati, keprihatinan, dan dorongan semangat, berita  ini sungguh sangat menyakitkan hati. Siapa sih yang ingin terkena musibah? Siapa sih yang ingin harta benda dan mata pencahariannya hilang dalam sekejap? Bila orang yang sudah terkena musibah, mbok yao jangan disakiti lagi dengan pernyataan-pernyataan yang tidak penting, pak.. Bila penerimaan pajak hilang akibat bencana, cukup dicatat saja, dan tidak perlu di-blow up kemana-mana. Pak Presiden dan DPR pun mengerti. Semua yang berhati nurani pasti akan memahami. Alih-alih ingin menunjukkan kinerja, pernyataan ini malah menjadi bumerang dan gambaran, bahwa dalam otak dan pikiran bapak-bapak itu hanya penerimaan, penerimaan, dan penerimaan. Target, target, dan target. Sensitifitas terhadap musibah, nol..

Atau mungkin saya yang terlalu sensitif, ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s