Pak…

Lantunan lagu dari Ebiet, Titip Rindu Buat Ayah, selalu membuat mata ini berkaca-kaca. Bukan apa-apa, tetapi memang demikian adanya. Rindu pada Bapak. Sebelas tahun sudah, almarhum Bapak meninggalkan kami. Dan sebelas tahun sudah, kata ‘Pak..’ tidak saya gunakan untuk menyapanya..

Beliau seorang yang biasa, tapi sangat luar biasa bagi saya. Sangat jarang marah. Sedikit berkata tetapi humoris. Berpikir sederhana. Sangat menyukai program Dunia Dalam Berita TVRI dan acara bulutangkis. Kegemarannya minum kopi, sayur asem, tahu penyet, sambal terasi, dan rokok Gudang Garam Merah. Selalu menggunakan kaos oblong warna putih merk Swan, dengan celana pendek warna coklat. Baju kesayangannya adalah T-shirt garis-garis warna hijau tua..

Pertemuan saya dengan Bapak yang terakhir adalah pada 18 Maret 1998. Kami berbicara ringan di keheningan malam di warung Tegal tempat Bapak dan Emak berjualan. Hari itu seperti biasa, merupakan saat kunjungan saya ke Jakarta karena sedang kehabisan duit bulanan untuk kuliah di Bogor. Datang ke warung Emak dan Bapak menjadi hal yang berkah, karena selain bisa makan enak dengan lauk kesukaan saya (ayam goreng ala Emak), dapat uang bulanan, dan sekaligus media ngobrol dengan Bapak dan Emak yang sangat jarang saya lakukan.

Saya ingat, obrolan malam itu bertema masa depan yang akan saya jalani setelah saya lulus kuliah. Pada waktu itu, saya sedang menyelesaikan skripsi dan diperkirakan bulan April atau Mei-nya saya bisa lulus kuliah dan diwisuda. Obrol sana obrol sini. Bapak bertanya: ‘Nanti lulus dari Bogor, mau kerja dimana, Dy? Spontan saya menjawab, ‘Pak, sepertinya saya mau merantau ke Sumatera atau Kalimantan’. Jauh ya, Dy? Edy ngga takut? Jawab saya, belum tahu pak, berani atau tidak. Bapak lanjut berkata : ‘Bapak sih kepenginnya kamu jadi pegawai negeri saja, Dy. Biar ndak susah-susah lagi seperti Bapak dan Emak. Emak menimpali, iya, Dy.. biar ngga repot-repot lagi. Waktu saya hanya tersenyum saja.

Pada malam itu, saya keceplosan menanyakan ke Bapak mengenai hutang ke Mas Jono, salah seorang sepupu saya. Pak, hutang sama mas Jono, gimana ya? .. Bapak menjawab, oh sudah lunas Dy. Kamu tenang saja.. Saya jadi teringat, saat kami berdua — saya dan Bapak– bersama-sama ke daerah Depok, berkunjung ke rumah Mas Jono dalam rangka meminjam uang untuk biaya pendaftaran kuliah di Bogor di pertengahan tahun 1993. Tanpa rasa sungkan Bapak mohon bantuan Mas Jono. Nilai rupiah yang kami pinjam sebesar Rp 750.000 untuk membayar uang kuliah satu tahun, dan biaya kost. Biaya yang cukup besar pada waktu itu. Bapak senang sekali saat Mas Jono menyetujui pinjaman tersebut. Saya lihat bagaimana bangganya beliau saat tahu saya akan berkuliah di IPB Bogor. Di keluarga kami, hanya saya dan abang saya yang sulung yang bisa melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi.

Saya sama sekali tidak menyangka, percakapan di malam itu merupakan obrolan saya yang terakhir dengan Bapak. Tanggal 30 Maret 1998 sore hari saya mendapat telpon dari Jakarta yang mengabarkan kalau Bapak sudah menghembuskan nafas karena anfal jantung yang kedua. Sebenarnya, saya sudah berencana pulang ke Jakarta pada tanggal 31 Maret-nya, untuk mohon doa restu ke Emak dan Bapak dan memberitahukan bahwa tanggal 8 April saya akan seminar hasil penelitian. Saya juga ingin sekalian menghantarkan bahan celana untuk Bapak yang sudah saya beli di Pasar Bogor untuk dijahitkan di Jakarta. Rencananya celana itu akan digunakan Bapak saat wisuda bulan Mei. Namun, sepertinya Allah lebih sayang kepada Bapak. Beliau meninggal di rumah Ciganjur di hadapan abang saya yang sulung, karena penyakit jantung yang dideritanya.

Bapak tidak sempat melihat saya diwisuda menjadi sarjana, padahal itu merupakan keinginan beliau yang paling besar. Segala upaya beliau lakukan untuk membiayai perjalanan kuliah. Pada saat selangkah menuju wisuda, takdir sudah berkata lain. Saya masih teringat, tatkala beliau mendadak mengunjungi saya di tempat kost Jl. Malabar Ujung, hanya sekedar untuk membawakan makanan kecil dan indomie. Atau saat beliau mendadak menjemput saya di Tegal pada saat saya pergi sendirian ke sana (waktu itu saya sudah tingkat III). Bila mengingat itu semua, saya merasakan kasih sayang seorang Bapak kepada anaknya masih selalu terjaga seperti dulu, meski si bungsu sudah beranjak dewasa.

Bapak memang jarang berkata-kata. Nasihatnya pun singkat. Beliau tak pernah mengungkapkan rasa sayangnya dengan kalimat-kalimat. Tetapi isyarat kasih sayangnya masih terus terbawa hinggi sekarang. Saya hanya ingin menyampaikan ke Bapak : Pak, saya sangat menyayangi, Bapak. Mohon maaf atas kesalahan yang pernah saya lakukan.. Sebuah kalimat yang tak pernah saya sampaikan langsung, dan terlalu terlambat untuk mengatakannya..

…”Rabbighfirli waliwalidayya warhamhuma kama rabbayani shaghiran”…

Ya Allah, berilah mereka balasan yang sebaik-baiknya
atas didikan mereka padaku dan pahala yang besar
atas kesayangan yang mereka limpahkan padaku,
Peliharalah mereka sebagaimana mereka memeliharaku.

..Untuk almarhum Bapak, terima kasih atas semua yang terbaik..

12 Desember 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s