Bolu kukus Gayus tak lagi maknyus

Tersebutlah kisah seorang Gayus. Dari sekolah tinggi ternama dia lulus.
Tanpa banyak membuka kamus, dia langsung diterima di departemen yang mengurus fulus.

Awal bekerja Gayus masih berpikir lurus. Masih terpatri di kepalanya senyum sang guru yang tulus. Yang berharap masa depan anak didiknya akan selalu bagus. Meski sang guru tahu, negara sering lupa kepada mereka untuk mengurus.

Seiring berjalannya waktu, pekerjaan Gayus meningkat terus.
Dia dipercaya untuk menangani tumpukan kertas berkardus-kardus, dan berkutat dengan berbagai rumus. Dengan harapan, di tangan dia pemasukan negara tak akan hangus.

Dan godaan pun datang mendekati Gayus. Membantu banyak orang untuk menyelesaikan kasus. Segala etika dan norma yang dia punya seketika putus. Di matanya terbayang Innova, Ford, Alphard dan Lexus. Hidup di rumah mewah dengan pengamanan khusus.

Gayus mengajak banyak teman agar rencananya berjalan mulus. Kongkalikong, pat gulipat, dan utak-utik rumus agar motif tak terendus. Bermain mata dengan aparat dengan janji bahwa bagian mereka akan diurus. Meski masih muda usia, Gayus sudah menyerap dengan baik ilmu akal bulus.

Bertahun usaha Gayus mengumpul pundi beratus-ratus. Makanannya pun tak lagi tempe gembus dan kacang rebus. Badan Gayus kini tak lagi kurus. Hanya sayangnya, dia menjelma menjadi seorang milyarder berakhlak minus.

Gayus mestinya berpikir bahwa sampah akan tetap tercium meski rapi terbungkus. Dan hidupnya tak lagi senikmat bolu kukus saat kasusnya dibongkar Pak Sus. Pergi ke Singapore pun dikuntit tim setaraf Densus.

Kini senyum Gayus terasa jayus. Bukan senyum saat dia menerima upeti sambil minum jus. Dia juga menyeret teman-teman yang dulu sering bersamanya rendez-vous. Mudah-mudahan dari mereka tak ada yang perlu diinfus.

Banyak yang bilang, Gayus hanya sebutir pasir halus. Di tengah padang pasir korupsi yang kencang berhembus. Berharap ini menjadi awal untuk program bumi hangus, bagi para koruptor yang bersikap seperti wedus.

Dari Gayus, banyak ungkapan tercetus :

*lunasi pajaknya, awasi pemungutnya!!
*lunasi pajaknya, kedipin aja pemungutnya !!
*lunasi pajaknya, terus gue dapet apa?
*hari gini ngurus pajak?? ngga enak ah sama gayus..
*lunasi pajaknya, bagi-bagi dong remunerasinya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s