Suguhkanlah kami kopi beraroma empati…

Kedamaian Ramadhan tak terasa untuk tahun ini. Bukan karena rakyatnya, tapi lebih banyak karena ulah para petinggi negeri. Terlalu banyak polah negatif yang mereka hadirkan. Mengharapkan sesuatu yang sejuk dari pejabat ibarat pungguk merindukan bulan. Sulit sekali rasanya membaca cara berpikir bapak2 di atas sana, yang sepertinya mati rasa dan tidak punya empati atas situasi bangsa. Pemerintah yang bergerak lamban atas masalah-masalah sosial, anggota Dewan yang pongah, dan hukum yang selalu berpihak kepada yang salah.

Kasus dengan negara tetangga ditanggapi lebih dari 2 minggu setelah kejadian. Terlalu basi dan tak ada gigi. Bukan mengharapkan untuk berkonfrontasi, tetapi lebih untuk menegaskan diri bahwa bangsa ini adalah sederajat bukan subordinat. Seperti biasa, pernyataan yang disampaikan selalu bersifat normatif. Mungkin karena citra santun yang kadung melekat pada diri seorang presiden. Saking santunnya, untuk hal-hal yang bersifat kritik terhadap dirinya selalu ditanggapi dengan cepat, namun untuk masalah kedaulatan, tabung gas, dan grasi atas koruptor amat sangat lambat tanggapannya.

Bila berbicara mengenai anggota dewan, mungkin 95% pendapat yang keluar adalah hal yang negatif, sinis, dan sarkastis. Pendapat yang negatif hadir sebagai bentuk reaksi dari ulah anggota dewan yang memang di luar nalar pikiran. Pembangunan gedung baru dengan berbagai alasan yang dibuat2 dan biaya yang super fantastis, sungguh membuat luka yang lebar bagi bangsa ini. Tidakkah para anggota dewan itu melihat TV dimana rakyatnya rela antri berjam2 hanya untuk mendapatkan sedekah Rp 15.000? Apakah anggota dewan tak tahu banyak sekali jalan negara yang hancur karena ketiadaan anggaran untuk perbaikan? Apakah mereka buta bahwa banyak sekali sekolah yang roboh karena tak tersentuh pembangunan? Mereka yang berjanji manis saat kampanye, akhirnya hanya bisa membuat luka para konstituennya.

Kinerja menteri? Susah untuk berharap mereka berkinerja bagus. Hanya beberapa saja yang memang pantas untuk disebut sebagai seorang menteri. Selebihnya hanya bisa dipanggil sebagai wakil partai. Audisi menteri sebagaimana audisi idol lainnya hanya menghasilkan menteri yang berpikiran instant dan jangka pendek. Bukan menteri yang berwawasan, berempati dan memiliki nurani. Lihat saja bagaimana seorang Menkumham menanggapi kritik tentang remisi untuk koruptor? “Itu kan sesuai dengan peraturan..” Atau seorang Menteri ESDM dalam menanggapi ledakan tabung gas yang merenggut puluhan nyawa? “Ledakan relatif kecil dari jumlah tabung yang digunakan..” Kemana nurani Bapak-bapak ini ya?

Setahun yang lalu saya berharap pemerintahan yang menang mutlak dalam pemilu akan mampu memberikan banyak penyejuk bagi rakyatnya. Kalau berharap kesejahteraan, mungkin masih terlalu jauh. Setidaknya ingin agar bangsa ini disuguhi teh manis kebaikan, kopi beraroma empati, atau segelas minuman isotonik ketegasan. Namun apa yang rakyat dapatkan? Bukan teh manis, tetapi teh pahit kesombongan. Bukan kopi beraroma empati, tapi kopi mati rasa. Bukan wedang ketegasan, tapi minuman kelambanan dan kelebayan..

Sepertinya saya harus bersabar hingga 2014. Masa dimana saya tak akan memilih wakil rakyat yang hanya bisa berstatement untuk memuji kebaikan partainya dan mendukung pemerintahannya secara membabi buta. Masa dimana saya tidak akan pernah mau memilih pemimpin yang bisa menulis lagu dan hanya bisa curhat. Masa dimana saya akan memilih pemimpin yang tegas, cepat dan cerdas dalam bertindak, pemimpin non melankolis, dan pemimpin yang bisa berempati kepada rakyatnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s