Prihatin yang seprihatin-prihatinnya..

Prihatin bukan siapa-siapa. Tetapi saat kata ‚prihatin‘ dipasangkan dengan kata ‚Presiden‘, kemudian ditelusuri melalui Google, akan menghasilkan 1.400.000 temuan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, prihatin berarti bersedih hati, waswas, bimbang (krn usahanya gagal, mendapat kesulitan, mengingat akan nasibnya, dsb). Dalam bahasa Inggris, kata prihatin dipadankan dengan kata concerned. Kata prihatin berasal dari paduan kata perih hati, ungkapan rasa kepedihan yang mendalam karena suatu peristiwa. Ucapan kata prihatin akan mendatangkan simpati bila hanya sesekali diucapkan, karena prihatin diungkapkan bila ada kejadian luar biasa seperti musibah, kecelakaan, bencana alam, dan perang.

Di negara ini, kata prihatin sering dipakai oleh para pejabat, termasuk presiden kita, dalam menyampaikan pernyataan sikap. Hal ini menggambarkan bahwa negeri ini selalu mengalami kejadian luar biasa. Hasil penelusuran di Google menunjukkan kata prihatin dipakai dalam memberikan pandangan untuk berbagai kasus, antara lain : kisruh kepengurusan PSSI (25 Maret 2011), aksi kekerasan di Libya (23 Maret 2011), teror bom (16 Maret 2011), gempa dan tsunami di Jepang (11 Maret 2011), kenaikan harga minyak (7 Maret 2011), kemiskinan pesisir yang meningkat (14 Februari 2011), insiden penyerang jemaah Ahmadiyah (6 Februari 2011), kerusakan hutan (10 Februari 2011), banyaknya pejabat daerah yang terkena kasus korupsi (1 Desember 2010), kekerasan di Papua (22 Oktober 2010), kasus Gayus yang piknik ke Bali (18 Nopember 2010), penusukan Jemaat HKBP (16 September 2010), Pilkada berbiaya tinggi (16 Agustus 2010), sampai terbitnya buku George Aditjondro (28 Desember 2009). Bila ditelusuri lebih detail, masih banyak kasus lain yang disikapi dengan kata-kata prihatin.

Untuk beberapa kasus seperti bencana alam dan perang, kata ‚prihatin‘ tepat untuk digunakan dalam menyikapi keadaan, karena kita memang tidak bisa berbuat banyak saat berhadapan dengan kekuatan alam, dan bencana perang. Namun, bila kata prihatin dipakai untuk menyampaikan sikap terhadap kasus korupsi, kemiskinan, dan intoleransi hanya akan menunjukkan ketidakberdayaan dalam menghadapi kasus-kasus tersebut. Semestinya para pejabat tidak mengatakan prihatin terhadap korupsi, kemiskinan, perusakan hutan, dan intoleransi, karena mereka memiliki power untuk mengubah keadaan. Bila sang pemegang power hanya bisa berkata prihatin, bagaimana dengan rakyatnya? Akhirnya rakyat hanya bisa prihatin yang seprihatin-prihatinnya atas pernyataan prihatin pejabat atas kondisi yang semakin memprihatinkan di negeri ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s