Rindu bertabur di antara jarak

Minggu malam ini terasa sepi. Catat ya, Minggu malam, bukan malam Minggu. Setelah sore tadi bekerja sedikit untuk menganalisis data di ruang kerja institut, tiba-tiba muncul kerinduan yang meluap kepada sosok pendamping yang telah menemani saya selama 10 tahun. Sosok cantik dan pintar yang membuat saya jatuh hati saat berjumpa dengannya di awal tahun 2000. Sebenarnya saya telah lama mengenalnya, saat dia mengikuti praktikum Dasar-dasar Agronomi di tahun 1996 dimana saya menjadi salah satu asisten dosennya. Hanya sekedar kenal, belum ada rasa apa-apa. Saya berjumpa kembali dengannya di tahun 2000, saat saya mengikuti sebuah pelatihan di kampus kami. Entah mengapa ada getaran saat melihatnya kembali.

Restoran KFC di dekat Tugu Kujang, menjadi tempat pertama kami makan bareng dan ngobrol sana-sini. Hubungan jarak jauh pun dijalani, Pematangsiantar – Bogor. Meski sudah memasuki era handphone, kami masih menjalani hubungan dengan berkirim surat ala pemuda jaman 2000-an. Alasannya cuma satu : kami berdua belum punya handphone. Surat-surat kami dalam dua bentuk, tulisan tangan dan hasil ketikan komputer. Rasanya dulu senang sekali bila ada surat yang sampai di meja kantor saya. Perasaan di dada membuncah.

Kalau ditanya, kenapa dulu saya tertarik sama dia? Jawabnya adalah karena dia sosok wanita yang pintar, cantik, dan kuat. Saya sangat bersyukur bisa mendapat pendamping seperti dia. Bila bukan karena dia, mungkin saya tidak lagi melanjutkan studi S3 seperti saat ini. Saat kebimbangan dalam memilih jalan hidup ada di depan mata, dia mendampingi saya untuk mengikuti kata hati. Meskipun itu mengharuskan ada banyak peluang dalam hidupnya yang terkorbankan untuk membesarkan anak-anak kami. Namun demikian, saya tetap menginginkan dia dapat berkontribusi dalam dunia keilmuan sebagaimana yang dia cita-citakan sejak lama. Mudah-mudahan waktu dan rezeki dapat berpihak kepada kami berdua.

Kini jarak tengah memisahkan kami berdua. Dua belas ribu kilometer, lima jam perbedaan waktu. Situasi yang penuh tantangan akan kami hadapi dalam beberapa tahun ke depan. Walau dunia saat ini seperti tanpa batas, dengan hadirnya berbagai teknologi pendukung, namun belum cukup mampu untuk mengobati rasa rindu kepada dia dan anak-anak. Hangatnya masakan untuk santap malam, pelukan dari si buah hati, dan renyahnya tawa saat berkumpul selalu saja membayang di pelupuk mata ini, saat kesendirian datang menyergap.

Kerinduan ini menjadi penyadar bagi saya. Sadar bahwa saya memiliki keluarga yang selalu setia mendampingi saya dalam kondisi apapun. Sadar bahwa tangan-tangan kecil di seberang sana selalu berharap untuk bisa memeluk saya secepat mungkin. Sadar bahwa saya memiliki permata-permata hati yang selalu membuat hidup saya sangat berharga.

“…Bapak memang jarang mengungkapkan rasa cinta dengan kata-kata. Tetapi dalam hati ini banyak sekali kata cinta dan rindu yang saling bertaburan yang berebut untuk diucapkan. Begitu bangganya Bapak memiliki istri yang tegar dan anak-anak yang pintar, yang selalu mendukung Bapak untuk belajar dan belajar…”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s