Emak, muara tenang dan embun pagi..

Emak, panggilan saya kepada Ibu. Umurnya mendekati 70 tahun. Sekarang beliau tinggal di rumah yang dibangunnya sendiri, hasil jerih payah membuka warung tegal sejak tahun 1974. Rumah Emak terletak di sebuah desa yang tenang, di Kecamatan Slawi. Nama desanya, Desa Kagok.

Emak, bagi saya adalah sosok penuh arti dan tak terganti. Beliau adalah muara yang tenang untuk menghilangkan segala kegundahan. Beliau ibarat embun pagi hari, yang mengubah segala kesusahan menjadi ketenangan dan kesejukan.  Mendengar suara Emak dan mengetahui beliau dalam keadaan sehat wal afiat adalah hal yang paling saya harapkan dan membuat saya semangat, apalagi saat hidup di perantauan seperti sekarang.

Emak, sosok wanita kuat yang saya kenal. Saat masih aktif menjalankan usaha warung tegal dulu, beliau sudah bangun pukul 3.30 pagi. Menyiapkan beras untuk ditanak, merebus telur, menata bumbu-bumbu untuk membuat sayur, dan menyiapkan adonan tepung terigu untuk tempe goreng. Bersama almarhum Bapak, beliau mengusahakan agar jam 6 pagi, nasi, sayur, telor dadar, telur rendang, dan tempe goreng sudah tersedia untuk pelanggan. Para pelanggan warung kami kebanyakan orang-orang yang  memulai aktivitasnya di pagi hari, seperti tukang roti, tukang becak, sopir bajaj, dan beberapa pedagang sayur keliling. Setelah beberapa menu untuk warung telah siap, beliau berangkat ke pasar Cipete untuk berbelanja keperluan warung untuk satu hari. Saya biasanya ikut ke pasar, menemani Emak berbelanja (mungkin pas-nya memaksa ikut ke pasar setiap pagi). Mengamati Emak berinteraksi dengan pedagang langganan, membantu Emak memasukkan barang belanjaan ke karung, dan pulang menaiki bajaj dengan duduk diatas karung belanjaan. Emak pergi ke pasar tanpa daftar belanjaan, tapi beliau ingat semua apa yang harus dibeli. Saat saya tidak ikut ke pasar, Emak selalu membelikan kue kesukaan saya : kue pukis. Atau sesekali beliau membelikan satu kaleng Wafer Roma, untuk saya habiskan sendiri.

Sepulang dari pasar, Emak langsung menyiapkan diri untuk memasak barang-barang belanjaannya. Menu masakan wajib tiap hari untuk warung tegal kami selain tempe goreng dan telur dadar adalah opor ayam, sayur nangka (bukan gudeg), dan sayur kacang tolo campur tahu. Biasanya saya, sebelum berangkat sekolah di siang hari, membantu Emak memotong bawang merah dan bumbu tumisan lainnya. Untuk bumbu opor ayam, selalu Emak yang menentukan komposisinya. Setelah bumbu siap, dan bila masih ada waktu, saya menyempatkan untuk membantu menggoreng bumbu, dan memasak opor ayam hingga selesai. Ayam yang sudah empuk, sebagian diangkat dari opor untuk digoreng, dan sebagian lainnya dibiarkan. Biasanya untuk menu warung, kami juga memasukkan tahu cina ke dalam opor. Sampai sekarang saya selalu mencoba untuk memasak opor seperti yang Emak ajarkan, tapi rasanya masih jauh dibandingkan masakan Emak.

Warung  tegal kami buka hingga pukul 19.30 malam. Setelah tutup pun, biasanya masih ada pelanggan yang mengetuk pintu warung, dan meminta makan. Bila masih ada nasi dan menu lainnya, Emak dan Bapak tidak pernah menolak pelanggan yang datang. Prinsipnya mereka sederhana, mereka yang datang ke warung kami, dalam keadaan lapar. Emak dan Bapak selalu melayani mereka dengan ikhlas dan senang hati. Malam hari, biasanya Emak masih berkutat di dapur warung. Menghangatkan nasi atau sayur, menyiapkan menu untuk besok. Warung dan rumah kontrakan kami saat itu menjadi satu.

Warung kami hanya tutup 3 hari saat Lebaran, kalau kami tidak pulang kampung ke Tegal. Saya pernah bertanya ke Emak, kenapa libur warungnya singkat sekali. Emak bilang kalau tutupnya kelamaan, kasihan para pelanggan. Mereka pasti perlu makan dan tidak banyak warung yang buka. Emak selalu berusaha untuk tidak mengecewakan pelanggan kami.

Emak memiliki kemampuan menghitung harga makanan, meskipun Emak tidak pernah mengenyam pendidikan, dan tidak bisa baca tulis. Saat melayani pelanggan, beliau tahu cara menghitung. Tapi bila ada pelanggan yang ingin berhutang dan kebetulan Bapak sedang tidak ada, Emak menyerahkan kepada pelanggan untuk menulis hutangnya sendiri di buku hutang. Saya pernah tanya, kok Emak percaya sama mereka? Jawab Emak : Meski Emak ngga tahu baca tulis, tapi Emak percaya mereka jujur. Kalaupun mereka bohong, ya biarkan saja. Memangnya ngga rugi, Mak? Emak bilang, rezeki bisa datang darimana saja.

Saya pernah mengajari Emak membaca dan menulis. Satu bulan belajar, akhirnya Emak hanya bisa tertawa akan ketidakbisaan beliau, lalu menyerah dan tidak sanggup. Beliau senang, seluruh anak-anaknya bisa sekolah dari hasil jerih payah membuka warung bersama Bapak. 

Emak sangat mengetahui kesukaan saya. Opor ayam dan ayam goreng.  Setiap saya pulang ke kampung Emak di Slawi, beliau pasti menyempatkan diri untuk memasak opor ayam. Makanya saya lebih suka datang mendadak ke kampung, dengan tujuan agar Emak tidak repot-repot menyiapkan masakan khusus buat saya.

Di usia senjanya, Emak masih terus beraktivitas. Setelah tidak lagi menjalani usaha warung, beliau kembali ke kampung halamannya tahun 2007 yang lalu. Di sana, beliau masih aktif membuat tempe, keahlian yang beliau tinggalkan selama berjualan di warung tegal. Tidak banyak yang diproduksi, tetapi selalu habis. Emak tidak perlu memasarkan ke luar, karena para tetangga yang datang sendiri ke rumah Emak untuk membeli. Kebiasaan Emak adalah memberi lebih kepada pembelinya. Entah itu tambahan tempe, atau makanan lainnya yang ada di rumah.

Di hari ulang tahun kemarin, saya menelepon Emak. Memang saya niatkan sejak awal, ingin ngobrol dengan Emak di hari ulang tahun saya. Sekedar ingin mendengar kembali cerita tentang  kelahiran saya. Beliau masih ingat nama bidan yang menolongnya. Dan Emak juga ingat, bahwa hari kelahiran saya dekat dengan lebaran haji. “Kamu lahir hari Jumat Pon, Dy. Jam 12 siang. Dan ada surat lahir yang ditandatangani Bu Dewi, bidan di RS Fatmawati”.

Keputusan saya melanjutkan studi di Jerman sini, juga karena dukungan dari Emak. Saat  gundah dan bimbang di akhir tahun 2010 yang lalu, saya memaksakan diri untuk pulang kampung. Mengobrol sambil minum teh bersama Emak, sambil cerita-cerita tentang kehidupan. Tentang pilihan-pilihan yang saya hadapi untuk studi atau pindah kerja. Emak hanya bilang, pilih yang membuat hatimu tenang. Menuntut ilmu banyak manfaatnya. Uang bisa dicari dimana-mana. Sangat sederhana, tapi memberi keyakinan saya untuk berangkat menimba ilmu. Saat itu saya juga bimbang,  tidak akan bertemu Emak minimal tiga  tahun karena jarak yang jauh. Emak meyakinkan, bahwa beliau akan sehat-sehat saja. Toh masih ada telepon untuk saling berhubungan. Dan setiap telepon, pertanyaan Emak selalu sama. “Edy makannya bagaimana disana?”.

Mudah-mudahan Emak selalu dalam keadaan sehat wal afiat di Slawi sana, hingga saya bisa kembali sungkem dan mencium tangan beliau. Kangen akan tempe goreng, opor ayam, sayur lodeh, dan semua masakan buatan Emak. Kangen usapan tangan di kepala, saat tiduran di pangkuan beliau, sambil bercerita sana sini.  Baru menyadari, semandiri-mandirinya kita, tetap saja selalu ingin menjadi “anak kecil” di hadapan Ibu sendiri..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s