Ketika musim semi tiba

spring2013aMusim semi tahun ini terlambat hadir. Secara resmi musim semi dimulai tanggal 20 Maret. Tetapi kenyataannya, udara dingin masih terus menyengat hingga awal April. Perkiraan meteorologi meleset. Tetapi ada yang setia menandakan hadirnya musim semi secara de facto. Ya, tanaman.  Tunas muda dan bunga. Tak salah orang mengaitkan keindahan musim semi dengan indahnya suasana hati yang jatuh cinta. Musim semi selalu indah, meski selalu ada peluang terjadinya perubahan di sela-sela keindahan.

Gemilang – Lagu penyemangat

GemilangMusik adalah bahasa universal, representasi sebuah komunikasi yang dibalut sentuhan perasaan. Menyimaknya dapat membangkitkan semangat tatkala pesimis datang mendekat.

Hari terus berganti banyak yang tlah terjadi
Dirimu kian pasti segala kan ku raih
Bila esok menjelang bahagiapun kan datang
Bintang di angkasa bersinar gemilang

Tempatku tuju segala angan dan harapan
Tempat ku padu cita-cita dan impian
Tempat ku tuju setiap langkah yang berarti
Tetap menyatu dalam hasrat dan tujuanku selalu

Waktu terus menguji tekad yang ku miliki
Kini tlah terbukti segala kan ku gapai
Rintangan ku hadapi cobaan ku lalui
Semua tlah ku dapati tetaplah gemilang

Tempat ku padu cita-cita dan impian
Tempat ku pacu segala langkah yang berarti
Tetap menyatu dalam hasrat dan tujuanku selalu

http://www.youtube.com/watch?v=oq379gq_1IY

2012 : Lintas negara, lintas benua

Tahun 2012, tahun yang berbeda. Saya sebut sebagai tahun kunjungan. Tujuan kunjungan bermacam2,  baik untuk studi, konferensi, atau sekedar jalan-jalan. Newcastle, Hangzhou, Dresden, Giessen, Groningen, Paris, dan Berlin. Berhubung sudah agak bosan dengan Facebook,  maka saya berbagi beberapa gambar dari masing2 kota di blog ini. Sekalian untuk mengaktifkan kembali blog yang ‘mati suri’ ditinggal penulisnya. Untuk teman-teman yang bertanya tentang sawit, mohon maaf belum sempat membalasnya. Kebiasaan lama saya muncul, menjawab saat sedang ‘mood’ saja.

Tidak semua kota ada dokumentasinya, karena sejujurnya saya paling malas kalau disuruh mengambil gambar.  Dan sepertinya sudah bawaan orok, lebih senang jadi obyek di dalam gambar.

Paris, 26 – 28 Maret 2012.

Narsis di Paris.jpg

Bergambar di depan Eiffel. Yang ini murni jalan2 dengan keluarga dan tidak dengan dana anggaran APBN 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Hangzhou, 9 – 15 April 2012

Hangzhou.jpg

China. Kemegahan berbalut budaya dan keilmuan.

 

Groningen, 29 – 31 Mei 2012

NL trips

Jalan-jalan berbalut studi banding ke Netherland.

 

 

Berita tidak penting : menjadi kurus…

Belum lagi puas menikmati  saat-saat menjadi sosok gendut nan lucu selama 4 tahun, saya sudah harus kembali lagi ke kondisi semula, kurus dan nampak serius. Saat ini body mass index  (BMI) saya turun menjadi 21,87 dari angka sebelumnya 25,39. Meski masih masuk ke dalam kategori normal dan sehat,  tetapi kehilangan 9 kg berat badan cukup membuat hati ini sedih.  Baru satu tahun saja sudah turun 9 kg, bagaimana dengan dua tahun berikutnya? *pertanyaan kurang penting no.1*

Menjadi kurus ada enaknya,  tetapi banyak juga tidak enaknya. Enaknya, saya tidak perlu menahan napas saat memakai sepatu bertali. Lebih bebas bergerak dan terasa ringan. Tidak enaknya adalah celana dan baju yang saya bawa dari Indonesia terasa sangat longgar, dan terlampau besar. Kondisi sekarang mengharuskan saya memakai pakaian satu nomor di bawahnya. Kalaupun mau memakainya, mesti dirangkap dengan pakaian dalam lainnya. Saat musim dingin seperti sekarang sih, ok-ok saja, karena memang harus mengenakan pakaian berangkap-rangkap. Bagaimana dengan musim panas nanti? *pertanyaan yang (sangat) tidak penting no.2*

Kok sekarang kurus? Pertanyaan inilah yang sering saya peroleh dimana-mana. Mungkin para teman dan sahabat membandingkan saat pertama saya tiba di Jerman, dan setelah satu tahun tinggal disini. Biasanya saya menjawab dengan senyum, sambil berkelakar “maklum student”, meski dalam hati juga bertanya-tanya ‘kok bisa kurus?’ Semestinya saya bisa untuk tetap menjaga BMI di kisaran angka 25, karena bahan makanan yang tersedia di sini kalorinya sangat tinggi. Tapi ada beberapa hal yang memang menjadikan saya menjadi lebih ramping saat ini (tidak tahu nanti).

Faktor pertama adalah aktivitas bersepeda.  Tidak disangkal, bersepeda merupakan kegiatan utama saat tugas belajar di sini. Ke kampus, ke shopping mall, ke stasiun, semuanya dengan bersepeda. Menurut mbah Google, mengayuh sepeda dengan kecepatan 10 km/jam bisa membakar kalori sebesar 165 kkal per jam-nya.  Saya telah bersepeda aktif setiap hari selama satu tahun terakhir. Dari kegiatan bersepeda saja sudah cukup untuk membakar stok lemak kebanggaan saya yang diproduksi selama periode 2007 – 2010. Dan saya baru sadar, stok lemak saya sudah tidak ada lagi. *kesadaran yang terlambat*

Faktor kedua adalah cuaca. Situasi dan cuaca dingin membuat tubuh kita bereaksi untuk menghangatkan diri. Nah untuk menjadi hangat, stok lemak di tubuh saya  juga yang dibakar. Bersepeda di musim dingin? Stok lemak saya benar-benar habis terkuras. Jadi wajar dong, kalau saya menjadi kurus. *pembelaan yang tidak penting*

Pembelaan saya mungkin bisa dipatahkan dengan kenyataan bahwa banyak orang Jerman yang tetap gemuk meski mereka bersepeda tiap hari dan mengalami musim dingin sepanjang hidupnya. Tapi saya bilang, mereka kan mengkonsumsi alkohol . Menurut Mbah Google (lagi), orang-orang disini rata-rata mengkonsumsi 12.81 liter/tahun pure alcohol dalam bentuk bir, anggur, vodka dll.  Khusus untuk bir, mereka mengkonsumsi 110 liter setiap tahunnya.  Dan semua orang tahu, kalau kita terbiasa minum bir, maka berat badan akan mudah bertambah. Haruskah saya minum bir untuk bertambah gemuk? *pertanyaan tidak penting no.3*

Tetapi sebab paling mendasar kenapa saya kurus adalah faktor makanan. Ya, betul sekali. Makanan. Dulu, sewaktu saya baru kembali ke Indonesia usai menunaikan tugas belajar yang pertama, saya langsung tergagap-gagap menyantap hidangan di Indonesia. Setiap kali makan, takaran menunya minimal dua porsi. Untuk sate padang, soto medan, dan soto ceker, saya bisa menyantap hingga tiga porsi. Bukan greedy, tapi lebih ke euphoria. Lama tidak berjumpa jajanan Indonesia, sekali jumpa langsung ambil banyak.  Apalagi saat saya menjalani perjalanan dinas dari kantor. Jadwal makan yang pasti 3 kali (sarapan di hotel, makan siang dan makan malam bersama client), sudah barang tentu berdampak kepada bertambahnya  tumpukan lemak.  Saat itulah bobot saya bertambah drastis 14 kg selama dua tahun. Hebat, kan? *pujian yang tidak penting*

Bagaimana dengan makanan di sini? Meski tinggal di negara londo, saya dan keluarga tetap masak dan makan makanan Indonesia.  Meski masakan sama, tetap saja ada feeling yang berbeda. Ada sih panganan ala Jerman sini. Tapi kelezatannya belum bisa menandingi kelezatan santapan Indonesia yang asli. Pernah mencoba untuk mengkonsumsi roti dan keju beberapa hari tanpa bertemu nasi. Hasilnya? Perut murus-murus.  Beruntungnya sekarang ada istri yang selalu memasak makanan Indonesia.  Jadi saya tidak terlampau kurus. 

Kesimpulannya, saya menjadi kurus karena saya student, beraktivitas sepeda, tinggal di cuaca dingin, dan selera makan yang berkurang. Dan bila ada yang berkeinginan untuk kurus, bisa memilih salah satu dari faktor penyebab tersebut. Tetapi perlu dicatat, saya tidak menjamin Anda untuk bisa menjadi langsing dalam sekejap.

Emak, muara tenang dan embun pagi..

Emak, panggilan saya kepada Ibu. Umurnya mendekati 70 tahun. Sekarang beliau tinggal di rumah yang dibangunnya sendiri, hasil jerih payah membuka warung tegal sejak tahun 1974. Rumah Emak terletak di sebuah desa yang tenang, di Kecamatan Slawi. Nama desanya, Desa Kagok.

Emak, bagi saya adalah sosok penuh arti dan tak terganti. Beliau adalah muara yang tenang untuk menghilangkan segala kegundahan. Beliau ibarat embun pagi hari, yang mengubah segala kesusahan menjadi ketenangan dan kesejukan.  Mendengar suara Emak dan mengetahui beliau dalam keadaan sehat wal afiat adalah hal yang paling saya harapkan dan membuat saya semangat, apalagi saat hidup di perantauan seperti sekarang.

Emak, sosok wanita kuat yang saya kenal. Saat masih aktif menjalankan usaha warung tegal dulu, beliau sudah bangun pukul 3.30 pagi. Menyiapkan beras untuk ditanak, merebus telur, menata bumbu-bumbu untuk membuat sayur, dan menyiapkan adonan tepung terigu untuk tempe goreng. Bersama almarhum Bapak, beliau mengusahakan agar jam 6 pagi, nasi, sayur, telor dadar, telur rendang, dan tempe goreng sudah tersedia untuk pelanggan. Para pelanggan warung kami kebanyakan orang-orang yang  memulai aktivitasnya di pagi hari, seperti tukang roti, tukang becak, sopir bajaj, dan beberapa pedagang sayur keliling. Setelah beberapa menu untuk warung telah siap, beliau berangkat ke pasar Cipete untuk berbelanja keperluan warung untuk satu hari. Saya biasanya ikut ke pasar, menemani Emak berbelanja (mungkin pas-nya memaksa ikut ke pasar setiap pagi). Mengamati Emak berinteraksi dengan pedagang langganan, membantu Emak memasukkan barang belanjaan ke karung, dan pulang menaiki bajaj dengan duduk diatas karung belanjaan. Emak pergi ke pasar tanpa daftar belanjaan, tapi beliau ingat semua apa yang harus dibeli. Saat saya tidak ikut ke pasar, Emak selalu membelikan kue kesukaan saya : kue pukis. Atau sesekali beliau membelikan satu kaleng Wafer Roma, untuk saya habiskan sendiri.

Sepulang dari pasar, Emak langsung menyiapkan diri untuk memasak barang-barang belanjaannya. Menu masakan wajib tiap hari untuk warung tegal kami selain tempe goreng dan telur dadar adalah opor ayam, sayur nangka (bukan gudeg), dan sayur kacang tolo campur tahu. Biasanya saya, sebelum berangkat sekolah di siang hari, membantu Emak memotong bawang merah dan bumbu tumisan lainnya. Untuk bumbu opor ayam, selalu Emak yang menentukan komposisinya. Setelah bumbu siap, dan bila masih ada waktu, saya menyempatkan untuk membantu menggoreng bumbu, dan memasak opor ayam hingga selesai. Ayam yang sudah empuk, sebagian diangkat dari opor untuk digoreng, dan sebagian lainnya dibiarkan. Biasanya untuk menu warung, kami juga memasukkan tahu cina ke dalam opor. Sampai sekarang saya selalu mencoba untuk memasak opor seperti yang Emak ajarkan, tapi rasanya masih jauh dibandingkan masakan Emak.

Warung  tegal kami buka hingga pukul 19.30 malam. Setelah tutup pun, biasanya masih ada pelanggan yang mengetuk pintu warung, dan meminta makan. Bila masih ada nasi dan menu lainnya, Emak dan Bapak tidak pernah menolak pelanggan yang datang. Prinsipnya mereka sederhana, mereka yang datang ke warung kami, dalam keadaan lapar. Emak dan Bapak selalu melayani mereka dengan ikhlas dan senang hati. Malam hari, biasanya Emak masih berkutat di dapur warung. Menghangatkan nasi atau sayur, menyiapkan menu untuk besok. Warung dan rumah kontrakan kami saat itu menjadi satu.

Warung kami hanya tutup 3 hari saat Lebaran, kalau kami tidak pulang kampung ke Tegal. Saya pernah bertanya ke Emak, kenapa libur warungnya singkat sekali. Emak bilang kalau tutupnya kelamaan, kasihan para pelanggan. Mereka pasti perlu makan dan tidak banyak warung yang buka. Emak selalu berusaha untuk tidak mengecewakan pelanggan kami.

Emak memiliki kemampuan menghitung harga makanan, meskipun Emak tidak pernah mengenyam pendidikan, dan tidak bisa baca tulis. Saat melayani pelanggan, beliau tahu cara menghitung. Tapi bila ada pelanggan yang ingin berhutang dan kebetulan Bapak sedang tidak ada, Emak menyerahkan kepada pelanggan untuk menulis hutangnya sendiri di buku hutang. Saya pernah tanya, kok Emak percaya sama mereka? Jawab Emak : Meski Emak ngga tahu baca tulis, tapi Emak percaya mereka jujur. Kalaupun mereka bohong, ya biarkan saja. Memangnya ngga rugi, Mak? Emak bilang, rezeki bisa datang darimana saja.

Saya pernah mengajari Emak membaca dan menulis. Satu bulan belajar, akhirnya Emak hanya bisa tertawa akan ketidakbisaan beliau, lalu menyerah dan tidak sanggup. Beliau senang, seluruh anak-anaknya bisa sekolah dari hasil jerih payah membuka warung bersama Bapak. 

Emak sangat mengetahui kesukaan saya. Opor ayam dan ayam goreng.  Setiap saya pulang ke kampung Emak di Slawi, beliau pasti menyempatkan diri untuk memasak opor ayam. Makanya saya lebih suka datang mendadak ke kampung, dengan tujuan agar Emak tidak repot-repot menyiapkan masakan khusus buat saya.

Di usia senjanya, Emak masih terus beraktivitas. Setelah tidak lagi menjalani usaha warung, beliau kembali ke kampung halamannya tahun 2007 yang lalu. Di sana, beliau masih aktif membuat tempe, keahlian yang beliau tinggalkan selama berjualan di warung tegal. Tidak banyak yang diproduksi, tetapi selalu habis. Emak tidak perlu memasarkan ke luar, karena para tetangga yang datang sendiri ke rumah Emak untuk membeli. Kebiasaan Emak adalah memberi lebih kepada pembelinya. Entah itu tambahan tempe, atau makanan lainnya yang ada di rumah.

Di hari ulang tahun kemarin, saya menelepon Emak. Memang saya niatkan sejak awal, ingin ngobrol dengan Emak di hari ulang tahun saya. Sekedar ingin mendengar kembali cerita tentang  kelahiran saya. Beliau masih ingat nama bidan yang menolongnya. Dan Emak juga ingat, bahwa hari kelahiran saya dekat dengan lebaran haji. “Kamu lahir hari Jumat Pon, Dy. Jam 12 siang. Dan ada surat lahir yang ditandatangani Bu Dewi, bidan di RS Fatmawati”.

Keputusan saya melanjutkan studi di Jerman sini, juga karena dukungan dari Emak. Saat  gundah dan bimbang di akhir tahun 2010 yang lalu, saya memaksakan diri untuk pulang kampung. Mengobrol sambil minum teh bersama Emak, sambil cerita-cerita tentang kehidupan. Tentang pilihan-pilihan yang saya hadapi untuk studi atau pindah kerja. Emak hanya bilang, pilih yang membuat hatimu tenang. Menuntut ilmu banyak manfaatnya. Uang bisa dicari dimana-mana. Sangat sederhana, tapi memberi keyakinan saya untuk berangkat menimba ilmu. Saat itu saya juga bimbang,  tidak akan bertemu Emak minimal tiga  tahun karena jarak yang jauh. Emak meyakinkan, bahwa beliau akan sehat-sehat saja. Toh masih ada telepon untuk saling berhubungan. Dan setiap telepon, pertanyaan Emak selalu sama. “Edy makannya bagaimana disana?”.

Mudah-mudahan Emak selalu dalam keadaan sehat wal afiat di Slawi sana, hingga saya bisa kembali sungkem dan mencium tangan beliau. Kangen akan tempe goreng, opor ayam, sayur lodeh, dan semua masakan buatan Emak. Kangen usapan tangan di kepala, saat tiduran di pangkuan beliau, sambil bercerita sana sini.  Baru menyadari, semandiri-mandirinya kita, tetap saja selalu ingin menjadi “anak kecil” di hadapan Ibu sendiri..