Hedonic Treadmill (by Dr. Rhenald Kasali)

HEDONIC TREADMILL

Kamis, 14 April 2011

Suatu hari seorang wartawan senior menawarkan saya untuk berkunjung ke rumah seorang mantan pejabat tinggi.Katanya, mantan pejabat ini senang memelihara tanaman langka,menyatu dengan alam, dan dikelilingi suasana desa.

Di kawasannya yang luas dan asri, ada rumah bacanya. Namun sewaktu saya tanya, siapa yang menjadi tujuan diadakannya rumah baca yang indah itu,teman saya mengatakan dengan datar,”Ya untuk si bapak itu sendiri. Banyak pertanyaan muncul dalam pikiran saya mengapa rumah baca yang mengoleksi karya-karya bermutu hanya dinikmati seorang diri? Bukankah di masa kecil kita semua pernah merasakan betapa indahnya dunia ini dari buku-buku cerita yang kita lihat di perpustakaan yang dinikmati banyak orang, bukan seorang diri.

Tetapi,saya lebih terhenyak lagi saat diceritakan,bapak ini juga kolektor lebih dari 100 mobil bagus dan semua ini hanya untuk dinikmati seorang diri. Saya jadi teringat cerita seorang teman yang bekerja sebagai direktur pada salah satu agen tunggal pemegang merek (ATPM) yang menyediakan dirinya mengantar ”upeti” berupa mobil pemberian seorang pengusaha ke rumah pejabat itu. Oleh ibu pejabat,saat mobil diserahkan, dia diberi amplop sebesar Rp10.000.

Sampai sekarang dia masih menyimpan tips dari ibu pejabat sebagai kenang-kenangan yang dia bingkai di ruang kerjanya karena seumur-umur,baru kali itu dia disangka sopir. Apa yang dialami bapak tua mantan pejabat yang mulai kesepian tadi sebenarnya tidak berbeda dengan orang-orang yang namanya banyak disebut media massa belakangan ini. Beberapa mantan petugas pajak yang sedang beristirahat di rumah tahanan, seorang bidadari cantik yang tengah diperiksa polisi karena menggelapkan dana nasabah, para pengurus partai politik yang sedang diperiksa KPK, pengurus organisasi sepak bola yang baru diturunkan oleh rakyat,dan seterusnya.

Nama-nama mereka sengaja tidak saya sebutkan supaya tidak memberi ruang pekerjaan pada para pengacara yang senang mengancam dan gemar mengirimkan saya somasi. Maaf, kali ini pekerjaan Anda sedang tidak dibutuhkan. Bersama-sama dengan pengacara- pengacara hedonis yang senang pamer kekayaan dan kekuasaan,mereka semua sedang melewati fase yang disebut Brickman & Campbell dan psikolog Inggris, Michael Eysenck, sebagai ban berjalan hedonisme.

Perbudakan terhadap materi membuat mereka yang terperangkap di sana mengalami kesulitan menggenggam kebahagiaan. Apa yang mereka dapatkan membuat sulit berhenti berlari di atas mesin treadmill yang bergerak semakin cepat. Kadang saya tak habis berpikir, bagaimana mungkin mobil semewah dan secepat lari Ferrari bisa mempunyai pasar di sebuah kota yang lalu lintasnya padat merayap seperti Jakarta? Tetapi, seorang bidadari yang bekerja sebagai client service pada sebuah bank asing berupaya keras membelinya.

Tidak hanya satu,tapi dua. Teori ban berjalan hedonisme (hedonic treadmill) atau biasa dikenal sebagai hedonic adaptation
theory menemukan, manusia-manusia yang terperangkap di sana hanya akan terpuaskan sementara. Dan dengan cepat mereka akan segera jenuh.Apa yang sudah dicapai itu hanya akan membahagiakan maksimal selama tiga bulan. Setelah itu mereka akan mencari lagi materi atau kekuasaan yang lebih besar. Namun, itu pun tak berlangsung lama.

Ban berjalan bergerak terus, melaju, dan melaju. Seperti ekstasi, menuntut Anda memuaskannya. Dari mencuri hanya beberapa juta rupiah, sampai Rp1 miliar, lalu puluhan, hingga ratusan miliar, dan triliunan rupiah.Kebahagiaan materi dikejar, tak ada hentinya,barangbarang yang semula Anda upayakan dengan bersusah payah, kini tak lagi mampu membuat
Anda bahagia. Anda pun memerlukan materi-materi yang lebih besar dan lebih bertenaga lagi untuk menumbuhkan semangat kebahagiaan.Tetapi,setelah didapat, Anda begitu cepat terpuaskan. Anda beradaptasi begitu cepat.

Berbagi, Sumber Kebahagiaan

Akhir tahun lalu sejumlah peneliti menemukan hasil penelitian lain yang dianggap melengkapi teori ini.Berdasarkan studi longitudinal terhadap 60.000 responden di Jerman, para peneliti menemukan tingkat kebahagiaan dan kepuasan manusia dewasa memang dapat berubah-ubah sepanjang tahun. Namun, apa yang membuat kebahagiaan mereka naik atau turun ternyata cukup menarik untuk direnungi oleh Anda yang sibuk mengejar materi. Responden orang-orang dewasa berusia antara 25-64 tahun yang diikuti selama 20 tahun itu mengalami pasang surut kebahagiaan.

Dan kebahagiaan itu ternyata bukan ditentukan oleh punya atau tidak punya materi, melainkan ditentukan oleh karakter dari partner Anda, tujuan kehidupan yang Anda pilih, prioritas hidup, gap antara bekerja dan menikmati, dan adopsi terhadap gaya hidup sosial. Ini berarti kebahagiaan Anda sangat ditentukan oleh seperti apa orang yang menjadi pendamping Anda, bukan oleh luas tanah, jenis, dan jumlah mobil yang bisa dimiliki, atau kekayaan lain.

Semakin bermasalah pasangan Anda, semakin terganggu kebahagiaan Anda. Namun, yang lebih penting lagi sebenarnya adalah prioritas personal yang Anda ambil dari keberadaan materi yang Anda kumpulkan. Apakah materi-materi dicari sematamata untuk dinikmati sendiri atau untuk dinikmati banyak orang? Menjadikan benda-benda duniawi sebagai koleksi pribadi dan cerminan prestasi diri dapat cepat membuat Anda merasa bosan dan kembali tidak puas.

Orang-orang yang bisa berbagi dan berorientasi hidup pada kebahagiaan orang lain akan lebih berbahagia. Sama halnya dengan gap antara bekerja dan menikmati. Sepanjang jarak antara waktu yang dimiliki begitu kecil, semua yang didapat akan menjadi sia-sia. Orang-orang yang berbahagia adalah orang yang mempunyai waktu untuk bekerja dan menikmatinya. Bila gap-nya kurang dari tiga jam, Anda bisa-bisa terperangkap pada hedonic treadmill.

Jadi, buat apa bersusah payah memiliki vila di daerah sejuk, perpustakaan pribadi yang lengkap, rumah dengan kolam renang yang luas, atau dua Ferrari jika tidak pernah memberi kebahagiaan tiada henti? Bukankah memperbaiki sepuluh rumah orang miskin atau memberi beasiswa pada kaum duafa lebih membahagiakan ketimbang hanya melihat benda mati teronggok diam di garasi? Juga lebih membahagiakan membuat perpustakaan yang dibaca banyak kanak-kanak daripada hanya membuat kita kesepian dan ketakutan buku dicuri orang?

RHENALD KASALI
Ketua Program MM UI

http://www.seputar-indonesia. com/edisicetak/content/view/ 392962/

Catatan :
Tulisan di atas saya salin langsung (copy paste) dari opini Dr Rhenald Kasali di Harian Seputar Indonesia. Sungguh, suatu tulisan yang sangat mencerahkan bagi saya pribadi. Saat ini, kekayaan terbesar saya adalah memiliki ibunda yang selalu sayang kepada saya dan saya sayang kepada beliau, istri yang cantik dan pintar, dua anak yang sehat dan cerdas, dan pekerjaan yang dengannya saya ikhlas menjalani. Mudah2an saya selalu bisa bersyukur atas apa yang saya miliki, dan mencoba untuk menjadi yang lebih baik.

Prihatin yang seprihatin-prihatinnya..

Prihatin bukan siapa-siapa. Tetapi saat kata ‚prihatin‘ dipasangkan dengan kata ‚Presiden‘, kemudian ditelusuri melalui Google, akan menghasilkan 1.400.000 temuan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, prihatin berarti bersedih hati, waswas, bimbang (krn usahanya gagal, mendapat kesulitan, mengingat akan nasibnya, dsb). Dalam bahasa Inggris, kata prihatin dipadankan dengan kata concerned. Kata prihatin berasal dari paduan kata perih hati, ungkapan rasa kepedihan yang mendalam karena suatu peristiwa. Ucapan kata prihatin akan mendatangkan simpati bila hanya sesekali diucapkan, karena prihatin diungkapkan bila ada kejadian luar biasa seperti musibah, kecelakaan, bencana alam, dan perang.

Di negara ini, kata prihatin sering dipakai oleh para pejabat, termasuk presiden kita, dalam menyampaikan pernyataan sikap. Hal ini menggambarkan bahwa negeri ini selalu mengalami kejadian luar biasa. Hasil penelusuran di Google menunjukkan kata prihatin dipakai dalam memberikan pandangan untuk berbagai kasus, antara lain : kisruh kepengurusan PSSI (25 Maret 2011), aksi kekerasan di Libya (23 Maret 2011), teror bom (16 Maret 2011), gempa dan tsunami di Jepang (11 Maret 2011), kenaikan harga minyak (7 Maret 2011), kemiskinan pesisir yang meningkat (14 Februari 2011), insiden penyerang jemaah Ahmadiyah (6 Februari 2011), kerusakan hutan (10 Februari 2011), banyaknya pejabat daerah yang terkena kasus korupsi (1 Desember 2010), kekerasan di Papua (22 Oktober 2010), kasus Gayus yang piknik ke Bali (18 Nopember 2010), penusukan Jemaat HKBP (16 September 2010), Pilkada berbiaya tinggi (16 Agustus 2010), sampai terbitnya buku George Aditjondro (28 Desember 2009). Bila ditelusuri lebih detail, masih banyak kasus lain yang disikapi dengan kata-kata prihatin.

Untuk beberapa kasus seperti bencana alam dan perang, kata ‚prihatin‘ tepat untuk digunakan dalam menyikapi keadaan, karena kita memang tidak bisa berbuat banyak saat berhadapan dengan kekuatan alam, dan bencana perang. Namun, bila kata prihatin dipakai untuk menyampaikan sikap terhadap kasus korupsi, kemiskinan, dan intoleransi hanya akan menunjukkan ketidakberdayaan dalam menghadapi kasus-kasus tersebut. Semestinya para pejabat tidak mengatakan prihatin terhadap korupsi, kemiskinan, perusakan hutan, dan intoleransi, karena mereka memiliki power untuk mengubah keadaan. Bila sang pemegang power hanya bisa berkata prihatin, bagaimana dengan rakyatnya? Akhirnya rakyat hanya bisa prihatin yang seprihatin-prihatinnya atas pernyataan prihatin pejabat atas kondisi yang semakin memprihatinkan di negeri ini.

Salam Tempel untuk Wajah Mulus Gayus

Kisah Gayus si bolu kukus masih berjalan terus. Semakin lama membuat hati semakin tergerus. Bukan hukuman yang dia dapat, tetapi kemewahan dan fasilitas khusus. Di tengah wedhus gembel yang panas berhembus, dengan nikmatnya dia melenggang ke bali, ber-wig bagus dan berkacamata minus. Berwisata, bergembira, seakan hidup tanpa masalah dan tanpa status. Betapa indahnya hidupmu, duhai Gayus…

Enam puluh delapan kali keluar rutan, Gayus tak pernah terendus. Seperti biasa, dia hanya bermodal salam tempel dan sedikit bonus. Mengemas amplop lima puluh juta rasanya seperti sedekah lima ratus. Buat pakar sehebat Gayus, apa sih yang tidak bisa diurus? Meski dikerangkeng di markas pasukan khusus, toh dia masih bisa menjalankan aksi akal bulus. Nafsu Gayus harus mengorbankan serombongan penjaga yang sering dibelikannya nasi bungkus.

Gayus mungkin lupa, ribuan mata tengah mengamatinya serius. Rambut palsu dan kacamata indahnya tak mampu menutupi raut wajahnya yang semakin mulus. Polahnya yang semakin minus, membuat wajah aparat semakin tirus. Kepercayaan yang tengah dibangun seketika pupus. Masih bisakah mereka berdiri gagah bak patung Dewa Zeus?

Sepertinya lingkaran Gayus dan mafia kasus tak akan pernah bisa diberangus bila aparatnya masih bermental tikus. Berharap masih ada hati bersih nan tulus, yang mampu membuat lingkaran ini terputus.

Celoteh ringan:
*Gayus kalau mau beli wig yang mahalan dikit, napa?
*Gayus mau saingan kacamata sama Afgan ya?
*Gayus kok pakai baju dobel sih di lapangan tenis? Emangnya ngga panas?
*Gayus, besok nyelam di Bunaken, yuk?
*Gayus, besok diundang facial sama Ayin. Gratis! Tapi salam tempelnya jangan lupa ya
*Gayus geto loh…

Persimpangan yang menentukan

Apa yang Anda lakukan bila anda tengah berada di persimpangan jalan? Kebanyakan kita pasti akan menjawab: berpikir sejenak untuk menentukan arah mana yang akan kita ambil. Bila arah yang kita akan tuju telah kita ketahui secara akurat, maka kita dapat memutuskan dengan cepat jalan yang akan kita lalui. Penuh kepastian, tanpa keraguan.

Beda halnya bila informasi tentang arah yang kita tuju masih kurang jelas. Keraguan selalu datang menyelimuti, saat kita akan mengambil keputusan. Takut salah. Khawatir jalan rusak. Cemas kalau-kalau tidak sampai ke tempat tujuan. Sementara kita diharuskan memutuskan secara cepat, karena banyak orang yang mengantri untuk melewati jalan yang sama.

Hal yang sama tengah menggelayuti pikiran saya yang saat ini tengah berada di titik persimpangan. Persimpangan yang sangat menentukan warna hidup saya di kemudian hari. Persimpangan yang menjadi titik tolak saya untuk menghadapi usia 40an. Usia saat orang-orang mulai berbicara mengenai kemapanan. Usia saat orang lebih banyak berpikir tentang arti hidup untuk keluarga dan komunitas. Tak lagi ada banyak embel-embel pribadi di sana.

Mengumpulkan informasi adalah hal yang saya lakukan. Menggali sebanyak-banyaknya pendapat orang yang saya anggap sebagai mentor dalam hidup saya. Orang yang selalu berharap bahwa saya bisa mencapai sesuatu yang lebih baik dan lebih baik lagi, Berusaha keras untuk menemukan ” the real passion, mission, dan value” dalam hidup saya, yang akan menjadi argumentasi untuk menentukan sikap terhadap persimpangan ini.

Ternyata bukan hal yang mudah untuk bersikap. Banyak hal yang menjadi konsideran, banyak hal yang mesti dipikir lebih dari dua kali. Pilihan yang ditawarkan memang banyak memberikan kontradiksi satu sama lainnya. Pilihan yang menawarkan pergolakan antara idealisme dan realitas hidup. Pilihan yang akan membawa dampak sangat rumit bagi kami yang akan menjalaninya.

Seorang teman mengatakan, yang saya butuhkan hanya keberanian dan konsistensi. Keberanian untuk menghadapi kerumitan, dan konsistensi terhadap pilihan yang telah ditetapkan. Bila dihadapkan pada pilihan, saya pastinya akan lebih memilih keluarga ketimbang ego pribadi. Dan saya juga akan memilih alur yang sedikit rumit, namun memberikan independensi yang lebih dalam menjalani kehidupan. Kadang raga dan hati terlalu lelah untuk hal-hal yang sebenarnya tidak terlalu penting untuk dipikirkan.

Baru teringat sebuah postingan yang pernah saya tulis sebelumnya. Mungkin ini memang jalan yang harus saya tempuh. Berbesar hati dan bersiap menghadapi segala kemungkinan. Seperti yang dikatakan seorang teman, anda yang menentukan jalan hidup Anda sendiri. Follow your heart, think logically, and you will find the answer.

Suguhkanlah kami kopi beraroma empati…

Kedamaian Ramadhan tak terasa untuk tahun ini. Bukan karena rakyatnya, tapi lebih banyak karena ulah para petinggi negeri. Terlalu banyak polah negatif yang mereka hadirkan. Mengharapkan sesuatu yang sejuk dari pejabat ibarat pungguk merindukan bulan. Sulit sekali rasanya membaca cara berpikir bapak2 di atas sana, yang sepertinya mati rasa dan tidak punya empati atas situasi bangsa. Pemerintah yang bergerak lamban atas masalah-masalah sosial, anggota Dewan yang pongah, dan hukum yang selalu berpihak kepada yang salah.

Kasus dengan negara tetangga ditanggapi lebih dari 2 minggu setelah kejadian. Terlalu basi dan tak ada gigi. Bukan mengharapkan untuk berkonfrontasi, tetapi lebih untuk menegaskan diri bahwa bangsa ini adalah sederajat bukan subordinat. Seperti biasa, pernyataan yang disampaikan selalu bersifat normatif. Mungkin karena citra santun yang kadung melekat pada diri seorang presiden. Saking santunnya, untuk hal-hal yang bersifat kritik terhadap dirinya selalu ditanggapi dengan cepat, namun untuk masalah kedaulatan, tabung gas, dan grasi atas koruptor amat sangat lambat tanggapannya.

Bila berbicara mengenai anggota dewan, mungkin 95% pendapat yang keluar adalah hal yang negatif, sinis, dan sarkastis. Pendapat yang negatif hadir sebagai bentuk reaksi dari ulah anggota dewan yang memang di luar nalar pikiran. Pembangunan gedung baru dengan berbagai alasan yang dibuat2 dan biaya yang super fantastis, sungguh membuat luka yang lebar bagi bangsa ini. Tidakkah para anggota dewan itu melihat TV dimana rakyatnya rela antri berjam2 hanya untuk mendapatkan sedekah Rp 15.000? Apakah anggota dewan tak tahu banyak sekali jalan negara yang hancur karena ketiadaan anggaran untuk perbaikan? Apakah mereka buta bahwa banyak sekali sekolah yang roboh karena tak tersentuh pembangunan? Mereka yang berjanji manis saat kampanye, akhirnya hanya bisa membuat luka para konstituennya.

Kinerja menteri? Susah untuk berharap mereka berkinerja bagus. Hanya beberapa saja yang memang pantas untuk disebut sebagai seorang menteri. Selebihnya hanya bisa dipanggil sebagai wakil partai. Audisi menteri sebagaimana audisi idol lainnya hanya menghasilkan menteri yang berpikiran instant dan jangka pendek. Bukan menteri yang berwawasan, berempati dan memiliki nurani. Lihat saja bagaimana seorang Menkumham menanggapi kritik tentang remisi untuk koruptor? “Itu kan sesuai dengan peraturan..” Atau seorang Menteri ESDM dalam menanggapi ledakan tabung gas yang merenggut puluhan nyawa? “Ledakan relatif kecil dari jumlah tabung yang digunakan..” Kemana nurani Bapak-bapak ini ya?

Setahun yang lalu saya berharap pemerintahan yang menang mutlak dalam pemilu akan mampu memberikan banyak penyejuk bagi rakyatnya. Kalau berharap kesejahteraan, mungkin masih terlalu jauh. Setidaknya ingin agar bangsa ini disuguhi teh manis kebaikan, kopi beraroma empati, atau segelas minuman isotonik ketegasan. Namun apa yang rakyat dapatkan? Bukan teh manis, tetapi teh pahit kesombongan. Bukan kopi beraroma empati, tapi kopi mati rasa. Bukan wedang ketegasan, tapi minuman kelambanan dan kelebayan..

Sepertinya saya harus bersabar hingga 2014. Masa dimana saya tak akan memilih wakil rakyat yang hanya bisa berstatement untuk memuji kebaikan partainya dan mendukung pemerintahannya secara membabi buta. Masa dimana saya tidak akan pernah mau memilih pemimpin yang bisa menulis lagu dan hanya bisa curhat. Masa dimana saya akan memilih pemimpin yang tegas, cepat dan cerdas dalam bertindak, pemimpin non melankolis, dan pemimpin yang bisa berempati kepada rakyatnya.